Langsung ke konten utama

Seni Bersikap Masa Bodo






5 tahun sudah saya baca buku ini, bagus sekali, awalnya seperti kata teman2, 
“koq teorinya aneh sih, masa iya kita diajarin jadi cuek, jadi jahat dong?!” 

Saya juga berpikir demikian, sekilas dari cover bukunya, ya begitulah gambaran informasinya. 

Tapi seperti pepatah lama : jangan menilai buku dari sampulnya. Itu secara harafiah terjadi dan ternyata memang buku ini punya kandungan yang berbeda.

Saya selalu suka buku ini dari latar belakangnya, apa itu cuek? mengapa harus cuek?
Dan bagaimana caranya masa bodo?

Naaah… inilah seninya… Mark Manson bukan ngajarin kita cuek dalam arti yang sempit seperti ‘malas peduli’ atau ‘bersikap dingin’
tapi : 
 “Hidup kita terbatas. Jadi pilih dengan sangat hati-hati hal apa yang layak mendapat energi emosimu.”

Jadi cocok ya buat kita yang sering : 
  • Kelelahan (Gak jelas kenapa??!) 
  • Merasa tertekan secara sosial (Gak 100% hidup) 
  • Overthingking (Apa aja jadi buah pikiran yang bercabang-cabang dan nambah kusut) - 
  • Pencitraan (Hidup ditentukan oleh komentar orang) 
  • Ekspektasi orang lain (harus memakai standar orang lain buat diterapin di hidup kita) 



Seni Bersikap Masa Bodo ini punya insight yang mendalam buat saya…

TIDAK SEMUA HAL LAYAK UNTUK DIPIKIRKAN  

Balik lagi tentang keterbatasan manusia, dimana manusia punya energi yang terbatas, jadi perlu kita kontrol secara ketat dimana konsentrasi energi itu kita salurkan.

Kalau kita peduli ke semua hal: 
  • omongan orang, 
  • validasi sosial, 
  • gengsi, 
  • semua konflik, 
  • semua ketakutan

Maka akhirnya kita akan habis.
Naah di buku ini ngajarin : 
 “Bukan jadi tidak peduli… tapi selektif dalam peduli.”  
Itu beda besar.
Besar banget.
Berdampak banget.
Sampai saat tulisan ini saya release bahkan saya sudah berhasil tidak aktif di sosial media lagi, saya bisa kepinggirkan urusan2 di sosial media dan segala keribetannya.

Selain latihan dopamin detoks seperti tulisan saya sebelumnya, saya juga belajar memilah ragam informasi dan fokus diri, fokus pada hal yang esensi, fokus pada waktu dan kesempatan dalam berkeluarga yang baik, dalam menjalin relasi yang seimbang, juga yang terpenting adalah fokus untuk meningkatkan latihan otot spiritual saya.

Dan… latihan masih terus berlanjut.


HIDUP MEMANG PENUH MASALAH

Saya sadar betul dari sejak usia dini bahwa saya dan keberadaan saya di dunia ini adalah penuh dengan masalah.

Dari sebelum saya dikandung ibu saya pun hidup saya (hidup orang tua) sudah berangkat dari rumitnya masalah, yang kemudian menjadi semakin rumit seiring berjalan waktu. 

Dulu saya punya anggapan yang salah… 
saya pikir kalau nanti saya “sukses”, maka masalah akan berlalu. 

Padahal… 
miskin punya masalah, kaya pun punya masalah, waktu hidup single punya masalah, setelah menikah pun punya masalah, waktu bekerja di orang lain masalah, waktu punya usaha sendiri pun masalah, usaha kecil stress, usaha besar pun stress. 

Maka akhirnya saya mengerti bahwa : 

“Kita hidup bukan bertujuan untuk menghilangkan masalah, tapi kita menghidupi hidup kita untuk memilih masalah yang patut diperjuangkan.” 

Bersambung…

Komentar