Part 3
KENDALI ATAS HIDUP
Di bahasan sebelumnya saya belajar soal Rasa Sakit, Nilai Hidup dan Cara Memandang diri kita jangan sampai terjebak dalam pemikirian ‘menjadi pusat semesta’
Lalu bagaimana respon kita sebagai bentuk tanggung jawab kepada kehidupan itu sendiri?
Masalah adalah bukan salah kita
Kan udah dibilangin kalau hidup di dunia ini pasti penuh masalah dan resiko, kita tidak bisa mengelak, kalau gak mau ya jangan hidup.
Jadi… easy aja…
Bernafas dengan bersyukur aja, bahwa setiap nafas adalah berkat, setiap nafas adalah kesempatan dan saya yakin… harapan itu muncul dengan sendirinya. ⛅️🌅
New Normal? Bukan.
Karena sudah sepantasnya saja kita seperti itu, lalu akan dengan mudah mendapat kekuatan baru.
Latihan? Ya.
Itu tidak mudah, apalagi kalau karakter kita sudah terbentuk selalu merasa menjadi korban, selalu salah orang lain, salah pihak lain.
Tapi… saya… saya.. dan saya…!
Saya lah yang salah bersikap tentunya.
Tapi memang keadaan tidak adil… dan masa lalu saya sangat buruk.
Chill Bro… semua orang juga begitu.
Kaum Silver plater dan golden spooner pun mengalaminya…
Saya juga kita hanya kita si kaum mendang mending yang merasa sulit.
Tapi itulah manusia, sampai umur 40 ini saya sudah banyak menemukan orang yang ‘kaum enak’ tadi tapi ternyata mereka pun banyak masalah.
Mereka pun hidupnya tidak puas.
Jadi jangan lupa fokus ke diri sendiri lagi ya…
Mana yang perlu dipikirkan mana yang harus dibuang jauh-jauh.
Kendali kecil bisa memutar kapal ribuan ton.
Mark Manson mengingatkan bahwa kita semua akan mati.
Ah… klise… cerita lalu yang usang…
Tapi inilah inti kebebasan.
Karena hidup itu terbatas jadinya waktu dan kesempatan itu sangat berharga.
Hubungan jadi penting.
Komunikasi, relasi jadi sangat penting.
Hal kecil jadi bermakna.
Pencitraan (gengsi/pride) jadi gak terlalu penting.
Kesadaran kematian membuat prioritas hidup lebih jelas.
Hidup itu:
Bukan tanpa masalah, bukannya tanpa gagal dan bukan hidup yang selalu bahagia.
Tetapi hidup yang paling hidup adalah hidup yang tahu apa yang penting, tahu apakah yang tidak penting dan berani menerima konsekuensinya.
Saya sendiri menerapkan beberapa poin yang akhirnya bisa dilewati setelah beberapa tahun saya :
- tidak terlalu mengejar validasi,
- tidak perlu menang semua debat,
- tidak memaksakan semua orang suka kita,
- tidak panik kalau progres lambat,
- fokus ke hal yang benar-benar membangun hidup.
Pasti orang-orang sekitar bakal pangling sama perubahan diri kita.
Istri saya juga sempat pangling dengan perubahan ini.
Waktu saya bekerja jadi seorang marketer, maka saya belajar banyak dimana kalau semua komentar dipikirkan, semua kegagalan dimasukkan hati, semua kompetitor bikin minder dan semua penolakan bikin hancur… maka usaha bakal susah jalan lama.
Jadi kalau mau cepat ya pilah pilah aja mana yang perlu dimasukin hati kebanyakannya ya tidak, kerjain aja kerjaan depan mata.
Next
Di bagian terakhir saya bakal bahas tentang Tekanan dan Masalah.
Bersambung.,,

Komentar
Posting Komentar