Part 4
Tension vs Problem
Nah ini bagian yang paling related sama masalah orang kebanyakan.
Sekaligus bagian yang paling ribet tapi paling sering terjadi.
Kita sulit membedakan mana yang masalah mana yang merupakan tekanan.
Kebanyakan lihat konten di medsos, pakai video durasi pendek dan scroll secara impulsif tanpa henti, jadinya otak kita berkabut (brain fog) alias jadinya sudah buat menyadari kondisi secara aktual.
Aktual seperti apa?
Ya sesederhana membedakan masalah dengan tekanan.
Yang seharusnya masalah yang paling penting dan perlu kita cari dan tempuh solusi terbaik, malah kita sering berputar-putar pada hal yang kurang esensi tapi menyita perhatian dengan banyak energi.
Mark Manson sebenarnya berkali-kali bilang:
penderitaan terbesar manusia bukan dari realita,
melainkan dari hubungan emosional kita terhadap realita.
Seperti ini contohnya :
Anggaplah saya adalah seorang penjual soto, namun karena terlalu sibuk medsos maka fokus saya bergeser dan sulit mengerti situasi…
Misalnya adakala situasi dimana Warung hari ini sepi.
Problem:
“Penjualan turun hari ini.”
Solusinya :
- evaluasi menu,
- promosi,
- Evaluasi lokasi,
- Coba dalami operasional,
- Cek rasa makanan.
- Dll
SELESAI…!
Tapi yang seringkali terjadi adalah Tensionl (perasaan)
Perasaan yang timbul bisa jadi:
- “Saya gagal.”
- “Orang lain lebih hebat.”
- “Saya tidak berbakat bisnis.”
- “Nanti semua bangkrut.”
- “Hidup saya hancur.”
Nah… ini yang menguras energi terbesar.
Dan sering kali:
manusia lebih hancur oleh perasaan (tekanan) daripada problem itu sendiri.
Sekali lagi kita perlu memahami bahwasanya hidup ini tidak mungkin lepas dari masalah.
Namun tidak semuanya adalah tekanan, karena tension (tekanan) itu bersifat emosional alias berdasarkan perasaan.
Problem
Adalah masalah nyata yang perlu diselesaikan.
Contoh:
- uang kurang,
- usaha sepi,
- mesin rusak,
- stok habis,
- konflik kerja,
- kesehatan menurun.
Ini objektif dan real.
Tension
Adalah beban psikologis yang kita ciptakan terhadap masalah itu.
Contohnya :
- takut dianggap gagal,
- malu dibanding orang lain,
- overthinking,
- rasa tidak cukup,
- panik masa depan,
- gengsi,
- rasa harus sempurna.
Jadi kadang:
problem masalahnya-mah kecil,
tapi
tension-nya besar sekali.
Ketika kita menerima bahwa hidup ya kadang ada di situasi yg sulit.,,
Maka… tension akan otomatis berkurang atau bahkan tidak ada tekanan, plong! Bebas!
Problem mungkin masih ada…
tapi kepala jadi lebih jernih buat menyelesaikannya.
Ini juga mirip dengan konsep stoikisme.
Filsafat Stoicism mengajarkan:
“Bukan kejadian yang menghancurkan manusia,
tetapi interpretasinya terhadap kejadian itu.”
Mirip banget.
Contoh praktisnya, ketika ada hujan, faktanya memang hujan, tapi kita merespon dengan kesal karena hujan (respon mental yang salah)
Ini adalah kisah yanh mahal sekali 1 dekade ini saya hadapi :
Dalam bisnis:
problem itu normal.
Yang sering membunuh justru:
- tension berkepanjangan,
- stres identitas,
- rasa malu gagal,
- takut dipandang buruk,
- overthinking masa depan.
Makanya pengusaha senior biasanya terlihat lebih “tenang”.
Bukan karena mereka tidak punya masalah…
tetapi karena mereka belajar:
memisahkan fakta dan drama mental.
Butuh usaha menahun untuk memahami dan memupuk mental yang kuat dalam menjalani fase ini.
Terakhir saya membayangkan seorang Ibu rumah tangga…
Yang ternyata tidak baik-baik saja…
Bayangkan ada seorang ibu rumah tangga.
Suaminya sakit-sakitan.
Sudah beberapa bulan tidak bisa kerja maksimal.
Penghasilan turun.
Biaya obat jalan terus.
Anak masih sekolah.
Problem (masalah nyata)
—fakta yang memang harus dihadapi:
- suami sakit,
- uang menipis,
- kebutuhan rumah tetap jalan,
- ada ketidakpastian masa depan.
Ini berat. Dan nyata.
Problem perlu tindakan:
- mengatur keuangan,
- cari bantuan keluarga,
- mungkin mulai usaha kecil,
- cari pengobatan,
- menghemat pengeluaran.
Tapi lalu muncul “tension”
Di malam hari…
saat semua tidur…
ibu ini mulai berpikir:
- “Kalau suami meninggal bagaimana?”
- “Saya gagal jadi istri.”
- “Kenapa hidup saya begini?”
- “Orang lain hidupnya enak.”
- “Tuhan mungkin menghukum saya.”
- “Saya tidak kuat.”
- “Anak-anak pasti masa depannya hancur.”
Dan perlahan…
beban emosional ini mulai lebih berat daripada problem aslinya.
Tubuhnya capek,
tapi pikirannya lebih capek lagi.
Kadang problem tidak langsung berubah.
Suaminya mungkin tetap sakit.
Uang tetap belum banyak.
TAPI…
kalau tension mulai turun,
hidup terasa lebih bisa dijalani.
Misalnya ibu itu mulai berkata:
“Situasinya memang berat… tapi hari ini saya jalani dulu satu hari.”
“Saya tidak harus tahu semua jawaban sekarang.”
“Saya sedih, tapi bukan berarti hidup selesai.”
“Saya boleh lelah tanpa merasa gagal.”
Nah…
di titik itu,
mental mulai punya ruang intuk “bernapas”.
Ini bukan denial
Penting banget:
“mengurangi tension” bukan berarti pura-pura bahagia.
Bukan berarti:
- menyangkal kesedihan,
- menekan emosi,
- berpura-pura kuat.
Tetapi:
berhenti menambahkan penderitaan mental yang tidak perlu di atas penderitaan yang memang sudah ada.
Problem itu seperti seseorang sedang memikul karung 20 kg.
Sudah berat.
Tapi +tension seperti:
sambil memikul, dia terus berkata:
- “Saya paling malang.”
- “Saya tidak akan kuat.”
- “Semua sudah tamat.”
- “Tidak ada harapan.”
Akhirnya beban terasa seperti 100 kg….!
Dan ini yang sering terjadi di hidup nyata
Kadang manusia:
- tidak hancur karena keadaan,
tetapi
- karena pikirannya tidak pernah berhenti menyerang dirinya sendiri.
Makanya ketenangan batin sering bukan datang dari:
semua masalah selesai,
tetapi dari:
hati yang tidak lagi perang dengan kenyataan.
Dan menurut saya itulah salah satu bentuk kedewasaan paling sulit dipelajari manusia.
😎

Komentar
Posting Komentar