Langsung ke konten utama

The Top Five Regrets of Dying, Mrs. Bronnie Ware

Halo manteman semua, semoga tetap sehat jasmani, sehat jiwa dan tetap bersyukur ya...

Kali ini saya mau sharing tentang penyesalan.

Bayangkan jika suatu hari nanti, kita mendapati diri terbangun ditengah malam, mata sulit terpejam, namun pikiran berkecamuk seketika.

Diri terbaring di ranjang sunyi, masih merasakan udara untuk bernafas, tubuh ini pun masih bisa digerakan dan pikiran berlabuh ke masa lalu yang bertautan dengan cepat dengan masa sekarang.

Hmmmh.... aku sudah tua, sangat tua...

Mungkinkah ini hari terakhirku?

Sekelebat memori tentang hidup yang sangat indah di masa lalu, banyak sekali, namun hanya singkat, seperti kilat menyambar, mulai samar dan mulai terlupa.

Yang ada hanya sekarang ini, kondisi ini...

Jika kita ada di situasi ini adakah penyesalan yang akan kita rasakan?



Untuk Dikenang

Kalimat "penyesalan datangnya selalu diakhir sedangkan kalo datang diawal namanya pendaftaran" rasanya sudah usang, udah gak lucu lagi, basi..!

Tapi apakah maknanya juga basi?

Sedangkan yang kita tahu bahwa waktu berlalu dengan cepatnya.

24 jam sehari tidak terasa. 

Tahu-tahu udah awal tahun lagi, tanpa banyak membuat perubahan yang signifikan. Detik demi detik berlalu tanpa makna.

Mungkinkah dalam detik - detik yang berlalu tadi terlalu banyak kesempatan yang sudah kita sia-siakan?


12 Tahun Kurang

Kita semua diberikan waktu yang sama dalam kehidupan.

Menurut ststistik usia rata-rata manusia adalah 71 tahun.

Jika rata-rata waktu tidur manusia adalah 7 jam per hari , maka dalam satu tahun manusia butuh waktu tidur 106 hari, jika dikalikan umur manusia 71 tahun maka didapat 7526 hari atau 26 tahun.

Jadi selama kita hidup waktu rata-rata untuk tidur yang kita gunakan adalah 26 tahun.

Jika dipotong lagi waktu untuk bekerja, dengan rata-rata waktu bekerja sehari adalah 8 jam, maka jika umur manusia 71 tahun akan didapatkan 23,5 tahun waktu yang digunakan untuk bekerja.

Dari umur 71 tahun tersebut setelah dipotong waktu tidur dan bekerja maka "hanya" tersisa 27 tahun.

Dari sisa 27 tahun tersebut jika kita potong lagi 15 tahun untuk masa kanak-kanak sampai remaja, sisanya adalah 12 tahun !!!

Yup 12 tahun saja, waktu tersisa -yang dimana kita benar-benar mampu dalam mengambil keputusan. Waktu sebagai orang dewasa.

Ingatlah hasilnya hanya tersisa waktu 12 tahun dari 71 tahun kita hidup.

Belum lagi waktu yang kita gunakan untuk bersosial media, nonton, nga-gibah, main game, bengong, chatingan dan lain sebagainya.

Walaupun ini hanya merupakan gambaran ilustrasi perhitungan secara umum tapi setidaknya hal ini dapat sebagai pengingat betapa singkatnya kita hidup di dunia ini.

sumur : google

Seorang mantan penyanyi lawas, Mrs Bronnie Ware yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang perawat di salah satu rumah sakit di Australia. Beliau menuliskan sebuah buku menarik yang berjudul The Top Five Regrets of Dying yang dirilis pada tahun 2009.

Bronnie Ware menghabiskan waktu berminggu-minggu mendekatkan diri dengan berkomunikasi kepada pasien - pasien yang berusia senja dan hampir tidak memiliki harapan hidup lagi.

Lalu saat berkomunikasi dengan pasiennya Bronnie Ware bertanya pada mereka :

Selama mereka hidup penyesalan apa yang mereka rasakan paling besar dan jika saja waktu bisa diputar kembali apa yang akan mereka lakukan?

Terdapat beragam jawaban dari setiap pasien yang ditemuinya atas pertanyaan yang diberikan tadi. Namun terdapat lima penyesalan terbesar yang paling banyak diungkapkan oleh para pasiennya menjelang akhir hayat mereka.


Menyesal karena Tidak Menjadi Diri Sendiri

Salah satu penyesalan yang paling banyak diungkapkan dari pasien yang dirawat oleh Bronnie adalah semasa muda mereka tidak menjadi diri sendiri.
Mereka hanya sejauh berharap mempunyai keberanian untuk hidup jujur terhadap diri sendiri dan bukan hidup atas ekspektasi atau kehendak orang lain.
Terapi pada akhirnya mereka sudah cenderung mengikuti pendapat atau kemauan dari orang terdekat, keluarga ataupun teman yang menuntut sesuatu untuk memilih apa yang menurut mereka baik.
Sementara baik menurut pandangan orang lain itu kan belum tentu baik juga untuk kita.
Sejatinya hidup ini milik kita sendiri, keputusan apapun adalah dari diri sendiri, semua orang hanyalah boleh berpendapat, hanyalah sebatas untuk kita pertimbangkan!
Akan lebih baik jika kita mampu membuat orang lain bisa menerima atau meyakinkan keputusan yang telah kita buat.
Tidak menjadi diri sendiri adalah penyesalan paling umum dari semua pasien yang Bronnie temui.
Seseorang baru menyadari bahwa mereka telah terjebak mengikuti siklus hidup orang lain, justru dirasa ketika dipenghujung akhir hayat hidupnya.
Apa pun pilihan hidup kita saat ini memang semuanya akan memiliki konsekuensi kelak.
Baik ataupun buruk.
Tapi yang terpenting soal pilihan kita tersebut  adalah pilihan sadar atas kehendak dan kemerdekaan kita dalam memutuskan sesuatu!
Adapun dari kecil dan remaja tentunya kita diharuskan mengikuti kehendak orang tua, guru atau orang yang bertanggung jawab atas hidup kita.
Tapi setelah dewasa baiknya kita memiliki keyakinan untuk mengambil keputusan dan hidup untuk diri sendiri, bukan hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Menyesal karena Tidak Meluangkan Waktu untuk Orang Tersayang

"Harta yang paling berharga adalah keluarga..."
"Istana yang paling indah adalah keluarga... "
"Puisi yang paling bermakna adalah keluarga... "
"Mutiara tiada tara adalah keluarga..."

Sebagai anak 90\"an penggalan lagu ini pasti masih terngiang di telinga.

Betul sekali makna liriknya sangat filosofis.

Fokus dalam bekerja maupun berusaha merupakan hal wajar dan seharusnya kita jalani, namun jangan sampai kita semua kehilangan waktu kepada orang tersayang di sekitar kita.
Karena bagaimanapun juga keluarga lebih berharga dari segalanya.
Mengabaikan hubungan keluarga atau asmara untuk pekerjaan, praktis pada akhirnya membuat kita melewatkan banyak hal berharga.
Dalam hidup terdapat banyak anjuran yang menyuruh kita untuk menjadi sukses dalam berkarir maupun usaha dengan cara : bekerja lebih keras, namun ingatlah bahwa kerja keras juga tidak harus sampai melewatkan banyak hal.

Coba berapa banyak orangtua yang melewatkan masa kecil anaknya sangat karena mereka terlalu sibuk untuk mencari nafkah?
Padahal masa kanak-kanak anak mereka adalah masa dimana mereka sangat sangat memerlukan kasih sayang dan bimbingan dari orang tuanya langsung.
Gak mungkin kan anak kita itu bisa langsung serba bisa?!
Terlebih lagi untuk masalah mental KARAKTER dan spiritual... -yang seharusnya sejak dini diajarkan dan dicontohkan!
Meskipun sebenarnya kita juga semua sadar bahwa hal tersebut merupakan pondasi yang harus kokoh dan sangat berguna bagi kehidupan anak - anak kita kelak.

Kalo menurut pendapat Alm ayah saya, dia pernah berkata bahwa :
"kepintaran bisa diajarkan, keahlian bisa diperoleh lewat les...
tapi karakter itu sifatnya sulit untuk diubah dan nasib hidup sangat tergantung pada karakter yang baik."

Atau mungkin bisa juga sebaliknya, giliran kita sebagai anak... jadi anak yang terlalu sibuk.
Sehingga kita melewatkan perhatian kita kepada orangtua dan sanak family kita yang sedang memerlukan.

Lewat buku Business is Fun, Coach bisnis Yohanes G Pauly pernah menuliskan bahwa sekiranya bisnis yang berhasil adalah yang profitable dan yang terpenting : bisnis autopilot.
Kenapa penting?
Karena perlu sekali kita hidup berimbang, sehingga hidup kita lebih berkualitas dan bahagia secara utuh.
Kalo kata anak zilenial istilahnya Work Life Balance, hidup yang berimbang tanpa harus meninggalkan kewajiban bekerja keras untuk meraih mimpi.
Saya sendiri berpendapat serupa.
Banyak orang - orang yang tidak mengerti hal ini, termasuk saya dulu.
Saya hidup bagaikan zombie, yang kalo hari senin lelahnya minta ampun (gak semangat), lesu, memulai hari dengan kepayahan.
Begitu pula hari Selasa dan Rabu. Kamis mulai ada setengah dari diri terbaik saya.
Begitu Jumat sudah 3/4.
Sabtu dan Minggu rasanya free, menjadi manusia sepenuhnya, bergairah setengah mati.
Motor-motoran, jalan-jalan ke mall, begadang pun saya tetap kuat!
Begitulah kira-kira saya pernah terjebak dalam looping siclus yang sangat membuang waktu, buang kesempatan dan energi.
"Jangan pernah menukar kehidupan anda dengan bisnis! -Coach Yohanes 
Memang pada dasarnya tujuan bekerja keras pada umumnya adalah untuk membahagiakan orang-orang tersayang namun kehadiran fisik kita adalah lebih utama dibandingkan materi.
Ketika bekerja terlalu keras akan ada banyak hal berharga yang akan terlewatkan dalam masa kehidupan dan hal yang paling berharga yang kita  akan lewatkan -dan tidak akan pernah kembali
lagi adalah WAKTU.
Uang atau harta benda yang kita berikan pada orang yang kita sayangi mungkin bisa didapatkan dari orang lain, tetapi waktu... tidak akan pernah bisa gantikan oleh siapapun.

Berusahalah seimbang dalam menjalani kehidupan ini dengan melakukan segala hal sesuai porsinya, sebelum kita semua menyadari bahwa semuanya telah berubah atau bahkan kita baru menyadarinya ketika sesuatu itu telah hilang dan tidak akan pernah kembali lagi. hiks

Menyesal karena Tidak Punya Hubungan Sosial yang Baik

Banyak pasien yang ditemui oleh Bronnie mengungkapkan bahwa mereka kesepian karena tidak memiliki teman di hari tuanya. Di saat muda mereka terlalu sibuk dan tidak menjalin hubungan yang baik dengan banyak teman-teman. Penyesalan ini juga banyak diungkapkan setelah mereka menyadari bahwa tidak ada satu temanpun atau sedikit sekali yang peduli kepada mereka ketika mereka sedang di rumah sakit.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Katrina Johnson, mahasiswi doktoral di Universitas Oxford, dalam sebuah jurnal scientific reports tahun 2010, mengatakan jika kuantitas dan kualitas hubungan sosial kita akan mempengaruhi kesehatan fisik dan mental.
Pada akhirnya hubungan sosial kita bahkan dapat menjadi salah satu faktor penentu : berapa lama kita akan hidup.
Hal ini ternyaa berkaitan erat dengan endorfin, yaitu zat kimia di otak yang berperan untuk memicu perasaan bahagia, yang juga sekaligus berfungsi sebagai obat penghilang rasa sakit alami.
Interaksi positif dengan sahabat dapat meningkatkan aktivitas endorfin dalam tubuh. Interaksi sosial mampu memicu emosi positif. Pada saat itulah endorfin mengikat reseptor di otak.
Hal inilah yang akan memberikan kita rasa bahagia saat melihat teman-teman kita, atau saat bersama dengan mereka.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang memiliki tingkat stres tinggi cenderung memiliki jaringan sosial yang terbatas.
Nah... Jangan biarkan kesepian menemani hari - hari terkahir kita kelak, pastikan dari sekarang ini kita selalu menjaga hubungan baik.

Pada dasarnya adalah orang yang baik akan cenderung lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri.

Menyesal karena Tidak Memiliki Keberanian Mengungkapkan Perasaan

Seringnya kita takut tidak dimengerti oleh orang lain, jadinya kita selalu tidak punya keberanian dalam mengungkapkan perasaan dan pemikiran kita.
Mirip seperti point noomor satu di atas, karena pada umumnya hidup kita didasari oleh persepsi orang lain.
Bahkan memberikan diri dilabeli macam-macam oleh orang lain.
Ataukah kita terjebak sebagai orang yang "People Pleaser" alias Pai Seng Kih alias orang yang gak enakan?
Saya termasuk yang seperti ini, saya sendiri cenderung untuk subjektif dalam mengambil keputusan.
Tapi seiring dengan berjalannya waktu saya menyadari betul bahwa saya ini mempunyai kepribadian ambivert alias extrovert dan introvert yang bergantian namun hampir tepat ditengah-tengah.
Sambil mendewasakan diri, saya harus tetap belajar memilah kapan dan kepada siapa saya bersikap toleran, kapan harus strict dan kapan pula harus bersikap masa bodo.
Tentunya juga memilih berani untuk ungkapkan  perasaan secara jujur dan terbuka.
Kalau kita ingat KKR tahun 90’an dulu selalu punya slogan :
"keterbukaan adalah awal dari pemulihan..."

Tetapi harus diingat pula, jangan sampai kita menjadi toxic buat orang lain, juga sebaliknya.

Coba dicek apakah manteman sering merasa bersalah tapi berada diposisi benar?

Apakah manteman juga hidup dalam bahagia yang pura-pura?

Atau manteman juga terlalu sering untuk tidak memprioritaskan kepentingan diri sendiri dan kepentingan keluarga inti demi orang lain?

Jangan sampai menyesal ya...


Menyesal karena Tidak Berusaha Lebih Maksimal

Tatkala kita mendapati performa diri kita sudah terlanjur menurun, memasuki senja dan susah sekali untuk disrupsi, tentunya kita akan sangat menyesal, kenapa pada waktu di masa produktif kita tidak berusaha se-maksimal mungkin?
Tidak belajar banyak hal dan memulai sesuatu yang baru?
Tidak memperdalam skill kita secara menyeluruh?

Faktanya untuk menjadi seorang ahli di suatu bidang, memang diperlukan minimal 7.000 jam terbang, namun point yang harus diingat adalah jangan sampai kita mengulang terus 1.000 jam pertama tanpa skill yang bertambah atau tantangan yang lebih sulit.

Ingat kata-kata Bill Gates yg paling populer :
"ketika kamu dilahirkan dalam kondisi miskin itu sama sekali bukan salahmu, tapi jika kamu kelak meninggal dalam kondisi miskin, hal itu sepenuhnya karena kesalahanmu..."

Jangan terjebak dengan kata - kata : 
"enaknya menjadi orang yang santuy!"
"Rebahan daper duit !"

"hidup mah ngeflow aja...!" 

Kalau kita tidak tahu prinsipnya, pastinya kita akan menjadi orang yang gagal dan menyesal.

Lebih baik berbuah pada waktunya, menjalani proses sebaik mungkin, menikmati kehidupan karena usaha yang maksimal, segala suatu lancar dan bahagia sepenuhnya.

Saya tutup tulisan ini dengan pepatah dari Tongkok :

"Orang yang santai tidak akan sukses...

  Orang yang sukses tidak santai..."

Ingat jangan sampai menyesal ya... Rahayu! Jumat berkah...! 👍

sumur : google.com









Komentar