Orang Yang Hidupnya Selalu Beruntung
“Keberuntungan sebagaimana kesialan adalah soal bagaimana kita mengarahkan orientasi kemana kita menghadapkan wajah kita ke situlah kita memandang.”
(Prof. Richard Wiseman)
Halo Manteman positif... di hari senin di awal bulan Oktober ini, hujan mulai turun dengan rutinnya, seolah mengiringi jiwa kita yg sepi mendekam dalam sendu galau dan tawar hati.
Saya sendiri makin byk merenung akan panasnya kompetisi di era disrupsi pergerakan digital yg masif dan seolah tak cukup diri saya menghadapi situasi yg terasa memberat ini.
Tapi dibalik itu semua, tenyata hanyalah keputusan yg sederhana dan kecil yg bisa membuat api lilin dalam jiwa kembali membara.
Keputusan apakah itu?
Yap benar... Keputusan untuk menerima hidup ini sial atau beruntung.
Keputusan ini memang tidak mudah, perlu berlatih. Tapi sekali lagi ini sangat sederhana dan percayalah keputusan kecil inilah yg membuat diri kita berubah.
Berubah itu memang butuh proses yg panjang, tetapi dengan berubah 1% saja maka sudut perubahan akan terus bergerak ke arah yg baik, hidup kita akan perlahan menjadi bermakna, kita akan siap menjalani dunia yg sedang disrupsi ini, karena seluruh diri kita yang masuk akan perbahan di dalamnya.
Bukan malah melawan perubahan!
karena seperti pepatah lama : “mahluk hidup yg paling bisa bertahan akan kepunahan adalah yang paling mampu untuk beradaptasi.”
Ternyata bukan sama sekali yg paling pintar, yg paling kuat, apalagi yg paling kaya.
Bayangkan sobat, seperti rel kereta api bila kita belokan 1 derajat saja, bayangkan hasilnya jika panjang kereta api itu beribu Kilometer, maka apa yg terjadi?
Kereta api menjadi berbelok dan berganti arah.
Nah itu maksud saya kita buat perubahan walau itu hanya 1% dari diri kita.
Perjalanan mental kehidupan kita bila sudah terlatih maka bisa dengan cepat beradaptasi, berbelok manuver lebih dari hanya 1% saja.
Syukur2 kalau hari ini kita dapati diri kita mampu mendisrupsi diri, mampu beradaptasi dengan cepat, bahkan puluhan persen.
Beruntung itu dimulai dalam pikiran.
"Jika kita menghadapkan pikiran kita pada hal-hal suram, maka kita tidak menyediakan ruang di dalam kepala kita untuk memperhatikan hal-hal yang cerah.
Sebaliknya jika kita mengarahkan perhatian kita pada keberuntungan yang kita dapatkan hari ini, maka kita mengelilingi diri dengan keberuntungan."
Jadinya kita punya kepedulian HANYA kepada hal-hal yang kita maknai sebagai keberuntungan.
Kesialan tidaklah ada lagi, karena ia tidak masuk dalam ruang lingkup perhatian kita dan kita akan menjadi orang yang bersyukur.
Camkan : hidup kita dikelilingi keberuntungan.
Namun jika keberuntungan dan kesialan adalah soal PILIHAN, bagaimanakah cara orang memilih keberuntungan bagi dirinya?
Sederhananya ketika kita memilih sesuatu, kita hanya perlu MENEGASKAN pilihan kita.
Ada sekian byk pilihan di hadapan kita, ataupun berbagai situasi kondisi kita hari ini dan kita bisa memilih secara bebas apa yang kita inginkan.
Saya memilih sebagai orang yang beruntung dan sekarang adalah hari keberuntungan saya.
Saya memilih : meyakini bahwa saya orang yang beruntung dan di masa depan saya lebih beruntung!
Jika kita pernah mengucapkan kalimat afirmasi seperti tadi dan pikiran sadar kita berontak menyatakan bahwa mungkin saja kita sedang “menipu” diri sendiri, karena kenyataannya emang lagi sial...
"Perasaan memang betolak belakang dengan logika."
Otak kita dengan mudahnya untuk merasa sakit, lemah, manja, berasa menjadi korban, dan sialnya itu semua yg menghalangi kita untuk menjadi kuat, menjadi sehat, menjadi mampu, menjadi berani...!
Secara lahiriah diri kita memang selalu ingin di kasihi, dibela, disayang, dimanja!
Hahay...
Maka pilih mana, berkubang dalam perasaan lemah atau memilih kutub yang lain, yang tidak akan membuat nyaman pada awalnya, tapi itulah pilihan yg terbaik?
Itulah yg seharusnya dipilih, dijalani, itulah takdir kita semua.
Ingat selalu bahwa kita memiliki hak pilih untuk menjalani hidup kita ini, jangan sampai disetir oleh segelintir perasaan yg membuat perlahan jalan hidup kita buntu.
Berharap ada malaikat penolong?
Dapat lotere?
Dapat bantuan dari pemerintah?
Atau dapat wangsit supaya menjalani tarekat tertentu yg membawa magis...
boooom!
Seketika berubah!
Helooooo! Ini jaman lagi direset...
Percaya deh gak bakal ada yg seperti itu, semuanya perlu proses. Dan dimulai dari diri sendiri, mulai dari titik terdalam dalam diri kita.
Percayalah otak kita sebenarnya tidak peduli bagaimana beratnya kondisi hidup kita.
Jadi pilih aja pilihan tadi, tegaskan pilihannya, gak usah kebawa oleh perasaan.
Katanya sih waktu yang paling tepat untuk menegaskan pilihan adalah ketika kita baru bangun tidur dan ketika kita hendak tidur.
Seorang Psikolog dari Inggris Richard Wiseman berhasil menyimpulkan karakter orang-orang yang beruntung dan karakter itu bisa ditiru.
Kata Mang Richard Wiseman keberuntungan itu ada polanya bisa dipelajari dan dipraktekkan.
Mang Psikolog ini ingin meneliti mengapa ada orang yang selalu beruntung, berada ditempat yang tepat di waktu yang tepat pula.
Dia mengumpulkan data sebanyak 400 orang, yang separuh menyatakan selalu beruntung dan separuhnya lagi menyatakan selalu sial.
Setelah melakukan banyak percobaan dia percaya bahwa sekarang dia bisa memahami mengapa orang lebih beruntung dibanding orang yang lain.
Ia memulai penelitian dengan memasang iklan di koran nasional dan majalah.
Dia meminta orang yang selalu beruntung atau yang tidak beruntung untuk menghubunginya.
Selama bertahun-tahun sekitar 400-an orang pria wanita dari 18 tahun sampai 84 tahun datang kepadanya.
Orang - orang yang beruntung itu datang dari berbagai macam latar belakang misalnya Jessica.
Dia ilmuwan forensik berusia 42 tahun, dia mengatakan : "Saya memiliki pekerjaan yang saya cita-citakan, dua anak yang menyenangkan dan pria yang saya sangat cintai. Luar biasa jika memandang masa lalu saya, saya sadar saya selalu beruntung di semua hal."
Sebaliknya Caroline, perawat berusia 34 tahun merasa sebagai orang yang selalu sial, ia gampang cenderung mudah mengalami kecelakaan, saat berjalan ia terkilir karena terperosok ke lubang jalan.
Suatu hari tulang belakang cedera karena jatuh, sampai saat belajar menyetir dia menabrakkan mobil ke pohon.
Ia juga tidak beruntung dalam urusan asmara dan merasa selalu berada di tempat yang salah pada saat yang salah.
Bertahun-tahun ia mewawancarai orang-orang ini dan mereka diminta mengisi buku harian, memberikan jawaban beberapa pertanyaan, melakukan tes IQ dan mengundang mereka ikut dalam sejumlah percobaan.
Hasilnya?
Menurut Wiseman orang-orang itu memang tidak tahu mengapa mereka selalu beruntung atau selalu sial namun menurut penelitian Wiseman pikiran dan perilaku mereka yang menyebabkan keberuntungan atau tidak keberuntungan itu.
Misalnya saja : bagaimana orang yang selalu beruntung selalu bisa melihat peluang, sedang orang yang sial tidak pernah bisa melihat peluang.
Richard Wiseman melakukan percobaan sederhana untuk melihat bagaimana orang bisa melihat peluang atau tidak.
Dia memberikan orang yang beruntung dan tidak beruntung sebuah koran.
Dia meminta orang-orang itu menghitung jumlah foto di dalam koran itu, rata-rata orang yang tidak beruntung membutuhkan dua menit untuk menghitung foto, tapi orang-orang yang beruntung hanya butuh satu atau dua detik. Mengapa bisa demikian?
Di halaman kedua koran itu terdapat tulisan dengan huruf sebesar 5 cm dan mengisi setengah halaman, yang bertuliskan : "berhenti menghitung! ada 43 foto di koran ini!"
Orang yang beruntung bisa melihat tulisan mencolok itu sedang orang sial tidak bisa melihatnya.
Richard Wiseman juga menaruh tulisan seukuran sama di bagian tengah koran tulisannya : "berhenti menghitung, bilang pada si peneliti jika anda sudah melihat ini dan mendapatkan 250 Poundsterling!"
Tapi kembali orang yang tidak beruntung itu tidak melihat tulisan itu, sehingga tidak bisa mendapatkan 250 Poundsterling tersebut.
Orang yang tidak beruntung terlalu sibuk menghitung foto sehingga gagal memanfaatkan dua peluang di satu koran saja.
Tes kepribadian juga memperlihatkan bahwa orang yang tidak beruntung pada dasarnya lebih tegang dari pada orang yang beruntung.
Ketegangan ini membuat mereka tidak bisa menangkap hal-hal diluar dugaan yang kadang membawa keuntungan.
Bagaimana ketegangan ini bisa membuat orang tidak bisa menangkap peluang?
Richard wiseman melakukan percobaan kembali, sekelompok orang beruntung dan tidak beruntung diminta melihat kursor yang bergerak-gerak di tengah layar komputer tanpa ada tanda-tanda sebuah titik besar kadang muncul di ujung layar.
Hampir semua orang yang ikut percobaan ini.
Melihat titik besar yang muncul di ujung layar, namun bagaimana jika mereka diberi ketegangan : mereka dijanjikan Hadiah uang besar jika memperhatikan kursor di tengah layar.
Mereka menjadi tegang dan memusatkan perhatian pada kursor di tengah layar!
Hasilnya hampir sepertiga peserta tidak bisa melihat titik besar di ujung layar.
Ricard Wiseman mengatakan orang yang tidak beruntung terlalu fokus pada satu hal, sehingga melupakan hal yang lain, yang kadang membawa keberuntungan.
Hal ini tampak bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari.
Saat orang yang selalu tidak beruntung pergi ke pesta misalnya, mereka sangat memusatkan perhatian agar bisa mendapatkan pasangan yang sempurna. Akibatnya mereka kehilangan kesempatan membuat banyak teman baru, yang mungkin saja satu dari banyak teman baru itu adalah orang yang sempurna menjadi pasangannya.
Begitu pula saat mereka melihat iklan lowongan pekerjaan, orang yang selalu tidak beruntung hanya melihat jenis-jenis pekerjaan yang mereka inginkan, padahal sangat mungkin ada pekerjaan yang lain.
Orang yang beruntung lebih santai dan melihat yang ada di iklan-iklan lowongan, bukan sekedar mencari sesuatu.
Berdasarkan kesimpulan riset yangRichard wiseman lakukan ternyata orang-orang itu selalu beruntung karena hal-hal berikut :
Yang pertama : Senang memaksimalkan PELUANG.
Mereka menjalani hidup dengan enjoy, tidak terburu-burudan lebih santai.
Mereka juga terbuka dengan hal-hal yang baru, senang bergaul dan menciptakan peluang serta memanfaatkan peluang tersebut menjadi karya yang nyata yang bisa memberi manfaat kepada banyak orang.
Yang kedua : mendengarkan hati nurani.
Untuk mengasah nurani mereka terbiasa merenung, bermeditasi, berdoa secara khusyuk, mereka memutuskan sesuatu karena panggilan Nurani dan intuisinya. Tidak terjebak pada banyak kajian dan analisa.
Bila mereka yakin, mereka putuskan meski secara nalar tidak masuk akal.
Mereka orang-orang yang memiliki nyali, tidak takut gagal.
Yang ketiga : yakin mendapat keberuntungan.
Orang-orang yang hidupnya beruntung selalu yakin bahwa dia mendapatkan keberuntungan.
Mereka sangat mensyukuri apa yang sudah mereka peroleh dan selalu memandang masa kini dan masa depan dengan keyakinan positif bahwa mereka akan mendapatkan keberuntungan.
Merasa di dunia dipenuhi keberlimpahan sehingga tidak perlu merasa gelisah dan khawatir.
Yang keempat : mereka yakin dibalik kesialan selalu ada keberuntungan.
Mereka selalu melihat ada hikmah dibalik penderitaan, musibah dan kesialan selalu ada pelajaran positif yang bisa diambil dari setiap kejadian termasuk kesialan sekalipun.
Bahkan mereka sangat yakin dibalik satu kesialan terdapat banyak keberuntungan yang bisa mereka dapatkan.
Mari kita terapkan kebiasaan orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan keberuntungan disertai
keyakinan bahwa Tuhan benar-benar menjadikan hidup kita dipenuhi keberuntungan.
***
Komentar
Posting Komentar