Langsung ke konten utama

The One Thing : Satu Hal Apa yang Paling Harus Anda Capai Dalam Sisa Hidup ini ???

Beuh Judulnya pasti horor buat sebagian orang.

Saya juga termasuk yg males buat bahas hal-hal begini.

Tapi saya adalah saya. Yang mana dalam peta kemampuan dan kekuatan saya, adalah kekuatan / kemampuan visi.


Saya seorang creator murni, yang juga adalah seorang star.

Dalam kesempatan lain saya bakal bahas ttg hal ini.

Lewat Seri buku Favorit saya yg berjudul Sadar Kaya karya Mardigu WP, seolah peta gambaran hidup saya begitu terang dan terbuka.


Serius... saya sudah baca sampai 3 atau bahkan 4 kali soal seri buku tsb.

Disana saya menemukan diri saya adalah seorang creator.


Creator atau ‘orang atas’ adalah orang2 yang hidup dengan visi yang kuat.

Kami sebagai kreator dicipta untuk mencipta, kami tidak bisa berhenti dari khayalan kami untuk mencipta.

Kekuatan untuk mencipta tersebut amatlah dahsyat sampai - sampai kami terlalu lemah untuk melawannya.

Dengan kata lain, kalo ngemeng soal konsep, kami natural sekali.


Sampai akhirnya di awal bukan Oktober ini saya dapat email dari seorang teman di komunitas membaca : goodreads.com.


Dia bercerita soal sebuah buku yg dipublish tahun 2016, dengan judul : ONE THING.


Buku ini dapat nilai 4.7 dari skala 5.0 dan mendapat 1.000+ ulasan / review positif di amazon.com.

Dahsyat emang... sebulan pertama sudah jadi best seller.

Tapi apa istimewanya?


Tema visioner buat banyak orang emang menggugah ya, keren gitu kedengernya.

Tapi tahulah, visi sekedar visi, konsep sekedar konsep, tujuan dan resolusi tiap tahun juga gitu - gitu aja, ya kan?

Hehe... tahun ini ada cuma sisa beberapa bulan lagi.

Masa kudu ganti resolusi dari Full HD ke 4K?

Emang segampang beli TV LCD?

Hidup tak semudah itu Esmeralda!

Yang sering terjadi mah mirip kata Black Panther : 

“WACANA FOREVER!!!”


Hahay...


Yang jelas saya tapinya tetep penasaran sama bukunya. Apa bagusnya sih...?

Ternyata yang hebat dari buku ini adalah Ia mampu mendefinisikan ulang konsep produktivitas yang gagal dijelaskan oleh konsep produktivitas sebelumnya.


Konsep ini mengajak kita memiliki visi besar kemudian dicari apa SATU hal yang paling berpengaruh pada goal tersebut, kemudian semua energi dan waktu difokusnya untuk mengerjakan The One Thing tersebut.

Setidaknya saya coba rangkum jadi beberapa point:


PEMAHAMAN YANG TERLANJUR SALAH MENGENAI PRODUKTIVITAS :


“Semua Pekerjaan Sama Pentingnya”


Salah Tuh!

Pemikiran tentang pencapaian yang sama adalah sebuah kesalahan.

Ketika semua terlihat sama pentingnya, kita hanya menjadi sibuk melakukan banyak hal, namun tidak ada hasil penting yang luar biasa yang berhasil dihasilkan.


Kebenarannya, aktivitas seringnya tidak berkaitan dengan produktivitas. Mengerjakan daftar To-Do yang panjang dan mengesankan memang bagus, tapi jika daftar itu hanya berisi dengan hal-hal yang sepele dan tidak penting, percuma saja, kita jadinya tidak akan kemana-mana.


“Multi - tasking”

Kalo istri saya baca pasti suka banget tentang ini : multitasking.

Penting gak sih?


Kalo menurut dia pastinya multi tasking ini amatlah penting. Dia seorang yang cenderung cepat, segala sesuatu ingin segera beres, tuntas, kalo perlu dengan cara yang paling mudah.


24 jam sehari haruslah bisa mengerjakan banyak hal.


Demikianlah dia seorang istri, seorang ibu dari seorang anak juga seorang pebisnis yang mempunyai karyawan dan “beban” untuk selalu menjaga visibilitas akun akun jualannya agar bisa tetap bersurfing diatas gelombang algoritma yang kian hari kian menantang.


Kalo kata buku ini Multitasking itu emang bagus, selama tujuan utama tadi tercapai (One Thing).


Namun multitasking juga seringkali tidak memberikan haril yang POL.


Kenapa coba orang multitasking tidak bekerja sebaik harapan orang-orang?

nah menurut buku ini ada beberapa alasan, sbb:

  1. Kapanpun kita menginterupsi alur pekerjaan kita, kita akan membutuhkan waktu lho untuk kembali ke ritme pekerjaan kita tadi – baik interupsinya sebentar ataupun lama. Kadang perlu waktu buat tune in lagi kan dalam melakukan tugas tertentu...
  2. Kapanpun kita mengganti pekerjaan kita, ada kecenderungan kita tidak akan kembali ke pekerjaan semula. Biasanya kan malah ditunda karena males mengawalinya lagi. Mirip point no 1 tadi, karena otak juga perlu waktu tuh buat mengasosiasikan masalah dan membuat peta guna menyusun cara dalam menyelesaikannya. Pilihan gampangnya : tunda! Sampe mood lah, sampe gak susah lah, dll. Ujung - ujungnya gak kelar juga.
  3. Membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan sesuatu saat kita melakukan banyak hal sekaligus. 
  4. Lebih mudah melakukan kesalahan ketika kita mencoba melakukan beberapa hal.

Kalo saya pribadi paling tidak bisa multitasking, pekerjaan saya di dapur kedai pun hanya bisa satu per satu, padahal udah rutin dan terbiasa juga sih. Tapi malah berantakan kalo dipaksakan.


Eh ada sih multitasking yang bisa saya kerjakan juga, mungkin karena sudah menahun terlatih ; poop sambil sikat gigi plus sikat lantai toilet dan keramas sambil cuci lap pake kaki..!

Saya haqul yakin manteman mana ada yang bisa kayak saya. Hahaha.


Jadi multitasking juga perlu kita takar agar hasilnya tetap maksimal.



Tekad (Willpower) itu bisa dibangkitkan

Mitos lain yang beredar bahwa tekad untuk melakukan sesuatu selalu ada dan dapat dipanggil kapanpun. Hmmmh betulkah begitu?


Pendekatan dasar mengenai“Dimana ada keinginan, disitu ada jalan”

menganjurkan kita untuk mencapai hal yang besar, dimana kita harus lebih menginginkannya dibanding hal lain yang kita inginkan.


Kenyataannya tekad tersebut pasang surut adanya dan terus mengalir naik turun dalam setiap saat.


Kadang pada suatu waktu kita memiliki tekad yg kuat tapi juga menurun pada waktu lainnya.


Bagi kebanyakan orang, tekad cenderung terasa sangat kuat saat memulai hari dan secara berangsur-angsur surut pada waktu siang/sore karena faktor kelelahan.


Tekad bersifat terbatas namun dia adalah sumber daya yang selalu dapat diperbaharui.


Tekad juga yang merupakan bensin untuk mesin kita tetap menyala dan termotivasi melakukan hal-hal untuk goal tadi.


Pas nemu tantangan, kesulitan, rintangan, halangan, harungan normalnya ingin kita hindari saja, walhasil visi dan goal kita melayang.

Mimpi sekedar mimpi yang tidak pernah terwujud karena terlalu susah untuk kita capai.


Kalo Tekadnya terjaga, mental kita arahkan untuk terus memupuk tekad tadi, pasti akan terus dikerjakan, pasti akan terus dilakukan, dihadapi.

Susah jadi mudah karena terbiasa.


Susah juga jadi mudah karena makin kita kerjakan maka kita makin ahli.

Mungkin kali pertama akan susah, namun akan menjadi mudah setelahnya.

Waktu Lionel Messi diwawancara tentang kiat suksesnya : hanya satu yg dia sebut, yaitu tekad!


Bukan kebetulan dan iseng semata dia ingin jadi Pemain Sepak Bola terbaik sepanjang sejarah, tapi karena dia ingin, dia bertekad ingin jadi seperti itu.

Dikala teman-temanny berlibur, dia hanya berlatih diri. Saat pemain lain berlatih dengan porsi standar, dia senantiasa melatih diri untuk siap dilatih dengan porsi diatas normal.


Wajar kalo mau jadi juara, latihan fisik dan mentalnya pun harus juara!


“Kalo hari ini kita masih begini - begini aja ya artinya kita yang memilih ingin seperti ini saja!, 


kita sendirilah yang bertekad untuk cuma menjadi seperti ini...”



KONSEP THE ONE THING

To achieve extraordinary results, you have to focus on one question and two concepts:


Ajukan pertanyaan ini:

Apa ONE THING (satu hal) yang harus saya kerjakan sekarang ?


—yang paling prioritas yang sejalan dengan tujuan saya.


Lakukan hal ini untuk mencari One Thing:

  • Someday - Apa satu hal yang ingin saya capai dalam hidup saya suatu saat nanti ?
  • 5 Tahun - Apa satu hal yang harus saya lakukan dalam lima tahun ini untuk mencapai goal tersebut ?
  • 1 Tahun - Apa satu hal yang harus saya lakukan dalam satu tahun ini untuk mencapai rencana 5 tahun tersebut ?
  • Bulanan - Apa satu hal yang harus saya lakukan bulan ini untuk mencapai rencana tahunan tersebut ?
  • Mingguan - Apa satu hal yang harus saya lakukan minggu ini untuk mencapai rencana bulanan tersebut ?
  • Harian - Apa satu hal yang harus saya lakukan hari ini untuk mencapai rencana mingguan tersebut ?
  • Sekarang - Apa satu hal yang harus saya lakukan saat ini untuk mencapai rencana harian tersebut ?


Pahami ini : 


Sukses itu bertahap!


Tidak ada yang bisa berhasil hanya dengan sekali lompatan, hal yang baik itu membutuhkan waktu.


Untuk bisa menerapkan konsep ONE THING kita  perlu melakukan beberapa cara;

  1. Sampaikan pertanyaan diatas terus-menerus sampai 66 hari agar menjadi kebiasaan.
  2. Buat remider atau juga catatan seperti ini “Sampai satu hal ini selesai, semua hal lainnya adalah penganggu”.
  3. Terapkan kebiasaan ini dalam semua area hidup kita.


Bersambung...


 

Komentar