Langsung ke konten utama

Buku Keren : Psychology of Money

 


"Ingat : Pengen kaya raya tajir melintir makmur sentosa itu beda banget sama pengen hidup yang 'keliatan' glamour...!"


Buku keren lagi ini mah, karyanya Mamang Morgan Housel.


Bukunya dirilis tanggal 8 September 2020.


Dimana gejolak krisis ekonomi lagi puncaknya. Di zaman pandemi Covid-19 lagi hebat-hebatnya, yang membuat perekonomian -dan bahkan segala aspek sosial kehidupan- terkena reset yang dahsyat.

Intinya dari buku ini adalah membahas bagaimana hubungan manusia dengan uang dari sudut pandang perilaku manusia.

Wih... bagus kan?

Kita bisa menggunakan uang dengan baik bukan berasal dari apa yang kita tahu tapi bagaimana perilaku kita soal uang.

Perilaku keuangan kita disadari atau tidak memiliki pola yang sama setiap harinya, setiap waktunya.

Pola tersebut terkadang samar dan tidak disadari.

Pola perilaku kita terhadap keuangan selalu menitik beratkan karena keputusan yang berdasar emosi atau perasaan.

Contohnya saat ketika kita memutuskan untuk berganti ponsel... padahal mah udah banyak informasi segala aspek data soal gadget kekinian, ujung-ujungnya mah apa yang kita pilih adalah berdasarkan emosional. (-semata). hahay...

Emosional disini bukan berarti dengan belinya sambil aambekan amarah atau dengan rasa marah. Tapi lebih menitik beratkan pada Perasaan atau feeling. Nah itu baru satu contoh...

Katanya mang Morgan pola prilaku keuangan itu sulit untuk diajarkan, bahkan terdahap orang yang sangat pintar sekalipun.

Begini...

Orang - orang yang genius tapi kehilangan kendali atas emosinya, bisa beakibat fatal dalam finansial. Tapi sebaliknya orang yang biasa saja, orang yang tanpa pendidikan finansial formal sekalipun bisa jadi kaya raya bahkan tajir melintir...

Kenapa?

Karena mereka punya sejumlah keahlian terkait perilaku yang tak berhubungan dengan ukuran kecerdasan formal.

Di buku ini tuh mang Morgan sudah menuliskan 19 cerita pendek yang menjelaskan cara aneh orang berpikir soal uang dan mengajarkan kita semua soal uang itu sendiri.

Karena kepanjangan... Setidaknya saya coba rangkum menjadi tiga point menarik aja.

Pertama :

Mengelola Uang Tidak Harus Pintar

Menjadi kaya raya nyatanya tidak ada kaitan langsung dengan kepintaran pendidikan formal, atau nilai akademis dan semacamnya.

Sebuah kisah menceritakan tantang Akang Ronald James Reid, dia adalah seorang petugas kebersihan pom bensin dan juga seorang donatur di Amerika Serikat.

Kang Ronald ini hidupnya sederhana, rutin menabung dan pada akhir hayatnya dia mampu mengumpulkan delapan juta dollar!

Mayoritas dari kekayaannya lalu disumbangkan ke rumah sakit lokal dan perpustakaan.

Kisah kedua adalah dari Akang-akang bernama Richard Vission dia merupakan lulusan Harvard dan eksekutif di perusahaan manajemen investasi bernama Merrill Lynch.

Sepanjang hidupnya dia banyak berhutang dan hidupnya sangat boros, hingga akhirnya nasib malang tiba yakni ketika krisis keuangan tahun 2008, kejadian ini akhirnya memaksa Akang Richard untuk menyatakan diri bangkrut!

Perbedaan nasib kedua orang ini bukan disebabkan oleh tingkat intelektual seseorang tapi berdasarkan bagaimana perilaku mereka soal uang.

Akang Ronald mah hidupnya sederhana dan tak lupa mengatur uangnya dengan sebaik-baiknya, sedangkan ari Kang Richard hidup dengan serakah dan boros.

Nah kan?!

Kesuksesan keuangan bukanlah ilmu yang kaku tapi lebih ke softskill dimana perilaku kita soal uang lebih penting daripada seberapa banyak yang kita perlu tahu tentang uang.

Pengalaman yang kita miliki sampai saat ini ternyata sangat mempengaruhi penilaian kita soal uang.

Ada contoh yang menarik nih, orang yang lahir pada tahun 1950-an versus orang yang 1970-an memiliki pandangan yang berbeda soal pasar saham Amerika Serikat.

Bagi orang yang lahir pada tahun 1951 mereka merasakan sendiri betapa kecilnya hasil keuntungan dari pasar saham sekitaran tahun 60an sampai akhir 70an karena pada saat itu secara rata-rata imbal hasilnya hanya satu digit.

Sedangkan orang yang lahir pada tahun 1971 punya persepsi yang berbeda. Mereka melihat pasar saham dalam kondisi naik di awal tahun 80an dan medio 90an.

Inilah yang buat orang yang lahir pada tahun 1970an punya persepsi yang lebih positif terhadap pasar saham daripada orang yang lahir pada tahun 1950an.

Contoh ini membuktikan kalau kita tidak bisa melupakan pentingnya pengalaman pribadi seseorang dalam membuat sebuah keputusan.


Kedua :

Fakta Unik Soal Uang

Ceritanya ada dua orang penulis : Akang Kurt Vonnegut dan Akang Joseph Haller, yang keduanya sedang berada di sebuah pesta seorang miliarder.

Akang Kurt bilang ke Kang Joseph kalau penghasilan miliarder itu dalam sehari lebih besar daripada seluruh pendapatan Kang Joseph dari novel paling populernya.

"Sep... kuring mah haqul yaqin ieu jalma, dina sapoe wae hasil duitna jauh tanah ka langit jeung hasil didinya nulis Nopel... beunghar kacida!"


Kang Joseph pun menjawab : "Betul... Heueuh bener pisan, tapi...."

Tapinya dia punya sesuatu yang tidak mungkin dimiliki miliarder itu.

Yaitu : rasa cukup! jawab Kang Joseph.

heuheu...

Kita selalu memiliki kebiasaan untuk membandingkan diri kita dengan orang lain, ini adalah proses yang tiada akhir dan akan selalu ada orang yang di atas kita. Ibaratnya diatas langit masih ada langit.

Sebenarnya yang paling penting kita harus tahu rasanya cukup!

Hal ini berarti kita menghindari perbuatan yang pada akhirnya membuat kita menyesal.

Contohnya seperti cerita si Akang Bernie Madoff.

Terkenal nih...

Ia adalah terpidana kasus ponzi terbesar dalam sejarah. Penipuannya berlangsung selama 17 tahun dan melibatkan ribuan investor dengan nilai investasi mencapai miliaran dolar. Gokil!

Ini adalah contoh kasus di mana seseorang tidak tahu rasanya cukup.

Mereka membawa diri mereka sendiri ke dalam jurang celaka karena mereka serakah dan tidak tahu kapan saatnya harus berhenti.

Perlu kita pahami banyak hal di dunia ini tidak sepadan dengan resikonya

Misalnya dalam mengejar kekayaan, kita justru punya resiko kehilangan reputasi, hilang kebebasan, teman, keluarga de el el.

Fakta unik lainnya yaitu kekayaan adalah sesuatu yang kamu tidak lihat.

Contohnya beginih... ketika ada seseorang mengendarai sebuah mobil seharga 1 miliar mungkin saja orang itu kaya raya, tapi faktanya yang kita tahu soal kekayaan dia adalah dia sudah menghabiskan 1 miliar untuk membeli sebuah mobil.

Mang Morgan mengingatkan kita kalau sebenarnya ketika orang bilang ingin jadi miliarder, yang sebenarnya dimaksud adalah mereka ingin menghabiskan uang miliaran.

Mereka ingin gaya hidupnya glamor, tapi jelas logika itu bertentangan dengan menjadi miliader.

Korban nontonin artis pamer harta kali ya...

Inget nenek saya juga pernah ajarkan hal demikian. Katanya kalo orang itu lebih pengen keliatannya kaya dari pada makmur dalam arti sebenarnya.

"Ingat : Pengen kaya raya tajir melintir makmur sentosa itu beda banget sama pengen hidup yang 'keliatan' glamour...!"

Mang Morgan memberikan contoh kalau ada perbedaan mendasar antara WEALTH dan RICH.

Kalau dalam bahasa Indonesia artinya sama : Kaya.

Namun ada perbedaan mendasar di antara keduanya.

RICH adalah orang yang tinggal di rumah besar dan naik mobil mewah, orang dengan pendapatan besar adalah RICH. Mereka menunjukkan kalau diri mereka adalah RICH.

Namun WEALTH berbeda.

WEALTH itu tersembunyi.

WEALTH adalah pendapatan yang disimpan bukan Yang dibelanjakan!

Jadi sebenarnya yang kita - kita lihat itu adalah RICH bukan WEALTH.

Mungkin saja ada orang yang terlihat RICH tapi sebenarnya hutangnya sangat banyak namun ada juga orang yang punya WEALTH yang besar tapi tampilannya biasa saja, tidak terlihat RICH.


Ketiga :

Mempertahankan kekayaan tidak sama dengan membangun kekayaan.

Ada banyak cara untuk memperoleh kekayaan tapi menurut Mang Morgan hanya satu cara untuk tetap kaya yaitu gabungan antara hidup sederhana dan punya rasa takut.

Memperoleh kekayaan dan mempertahankan kekayaan punya pendekatan yang berbeda.

Dalam memperoleh kekayaan kita perlu mengambil resiko dan optimis.

Sedangkan dalam mempertahankan kekayaan kita butuh mindset yang 180° bertentangan.

Yaitu kita harus hidup lebih sederhana dan punya rasa takut kalau apa yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun bisa hilang dalam sekejap.

Itulah sebabnya kita harus memiliki Survival Mindset dalam pertahankan kekayaan :

  • Pertama : Kondisi keuangan yang kokoh

Kita harus punya manajemen uang yang baik.

Misalnya berapa bagian untuk investasi konservatif dan berapa bagian untuk investasi agresif.

Pembagian ini harus jelas dan diamati dengan baik.

Hal ini bertujuan agar kita mampu menikmati kondisi keuangan yang baik dan jangka panjang.

  • Kedua : Rencana yang kita susun mungkin tidak terjadi

Rencana yang baik harus bisa menyisakan ruang apabila gagal.

Yang artinya kita harus siap dengan opsi kedua apabila opsi pertama tidak berhasil.

Ada seorang Venture Capitalist bernama Akang Michael Moritz.

Si Akang pernah bilang kalau kita tidak bisa berasumsi bahwa hari besok akan seperti hari kemarin dan kita juga tidak bisa berasumsi kesuksesan kemarin akan menghasilkan kekayaan di masa depan.

  • Ketiga : Optimis tapi juga takut

Mungkin bagi sebagian orang hal ini cukup membingungkan tapi esensinya adalah kita harus optimis terhadap masa depan tapi kita boleh merasa paranoid pada rintangan yang kita hadapi saat menuju kesana, tentu saja hal ini lebih menekankan kalau kita harus selalu mawas diri dan waspada dalam pertahankan kekayaan.

Ada fakta sederhana yang jarang orang pahami soal kekayaannya mang Warren Buffet.

Dia teh bukan hanya seorang investor yang hebat tapi dia adalah investor yang hebat selama tujuh puluh lima tahun lebih... asli ini mah Fakta!

Rahasianya kesuksesan keuangan mang Warren bukan berasal dari mencari imbal balik hasil setinggi-tingginya tapi bagaimana dia bisa mendapatkan imbal hasil yang relatif bagus dalam jangka waktu yang panjang.

Inilah yang akhirnya membuat Compound Effect bergulir sangat kencang.


Ini juga point untuk mindset kita, point yang seharusnya kita miliki saat
mengumpulkan kekayaan.

Kita bisa membangun kekayaan tanpa pendapatan yang besar... tapi kita tidak bisa membangun kekayaan tanpa mindset yang benar soal uang!

Wasalam akang - akang, teteh - teteh...

Mamang undur diri dulu, wilujeng dinten minggon.





Komentar