Langsung ke konten utama

Zach and his King : Belajar Zakheus



Musim 12 minggu lawatan Roh Kudus di gereja lokal saya sudah berakhir minggu lalu. Minggu kemarin saya hanya menebak-nebak bahwa ibadah akan berlangsung secara ordinary, biasa.

Namun ternyata Roh Kudus berkehendak lain, lawatan demi lawatan terjadi dengan deras, mengimpartasikan banyak kuasa, banyak kelepasan, banyak mukjizat!

Saya datang bersama istri dan anak, sengaja kami ‘spare’ waktu agar tidak tergesa-gesa di jalan dan yang pasti bisa ‘tune in’ lebih awal, jadi bisa persiapan hati, pikiran, perasaan untuk ibadah yang istimewa.


Benar saja… seperti lonceng besar kuil yang berdentang keras, tak lama frekuensi hati mulai tuning dan stabil di channel Tuhan.

Semua pikiran berkurang drastis dan menuju ke 1 pusaran kerinduan untuk bertemu Tuhan, seperti rusa yg merindukan air, seperti bayi yang rindu buaian, tangisan saya pun berderai, mengawali… awal ibadah…

Lalu mulai saya merasakan kehadiran Allah melalui Roh Kudus yang saat ini sudah saya kenali, spesifik.


Ketika mulai tenggelam dengan nuansa itu, tiba2 saja tangan saya ditarik, ternyata Petugas Catcher membawa saya ke depan, lalu Pastor memateraikan kuasa Roh Kudus yang membuat fisik saya rebah dan fase suara2 indah mulai kuat terdengar.


Bagai hujan deras di tengah tanah kering, betapa luar biasanya perjumpaan dengan Tuhanku, namun pikiran mulai mengingat akan dosa dan kehidupan pribadiku yang penuh kekurangan. Goyah! 

Seolah ini hanyalah fenomena.

Dimana rebah, kuasa2 dan ibadah ini seolah seperti lelucon, sebuah utopia perasaan diri saja, yang meluap-luap karena akumulasi rasa di pikiran saja namun mendapat fasilitas dan momen sehingga bisa tersalurkan.

Alias ‘rarasaeun’, tanpa Allah!


Tapi peperangan tersebut segera dimenangkan, ada kuasa yg mengambil alih, seketika pikiran seperti itu dijawabNya.

Suara itu begitu lembut, samar dan hampir tidak terdengar, tapi ketika diri berusaha mencapainya, suara itu tidak kabur, dia tetap ada disitu, semakin kita mengejarnya semakin mudah kita meraihnya, suara yg memerdekakan, suara yang memberi kemenangan.


Lalu dengan jelas saya mendengar suara yg warna suaranya mirip dengan suara pribadi, namun dengan nada yang berbeda…


Berkata : 

“Apapun yang telah terjadi di masa lalu, baik dan buruk, hal yang menyenangkan atau memalukan, hal yang menggembirakan atau menyedihkan, semua itu tidaklah penting, yang paling penting adalah saat ini, realitanya saat ini kamu bersamaKu, itu yang akan mengubah hari esok.”


Pesan yang sangat jelas, terus berulang kali terdengar sampai saya mengerti betul bahwa masa lalu itu seperti sebuah spion, yang hanya sekali-sekali saja kita lihat, itu pun jika hendak bermanuver, jika lurus saja, pandangan arahkan saja ke depan, jalani realita saat ini.


Betapa salah arah fokus saya selama ini.


Betapa pun saya berusaha mengisi kekosongan di masa lalu saya, tetap saja tidak merasa penuh.


Betapa pun kuatnya saya membenarkan kesalahan demi kesalahan di masa lalu saya, malahan aksi itu hanya membuat kerikil baru.


Kerikil kecil yang terus saya kumpulkan, lalu menjadi berat, yang terus saya bawa-bawa, sehingga pada suatu titik… diri saya sadar bahwa saya sudah terbeban : hidup semakin berat. 


Pantas saja sulit untuk ‘take-off’ !


Tapi apa yg membuat berat, apa yg membuat sulit?!


Kali ini jawabannya ketemu, solusinya juga pasti…!


Betapa masa lalu selalu jadi beban, betapa ruang kosong dan bolong - bolong selalu menggerogoti fokus dan realita di masa kini..!


Terima Kasih Roh Kudus… saya sudah sadar…


Saya bisa tertawa lepas! Saya merdeka atas pikiran saya yang salah, atas segala konsep - konsep kehidupan.


Hanya urapanNya yang bisa mengubah hidup saya…


Tak akan lagi sama…


Lalu…


Saya sudah bisa membuka mata, sudah bisa mendengar suara2 jemaat, suara tangis dan tawa - yang sama dengan saya. Betapa indahnya…


Saya baru sadar kali ini saya bisa tertawa-tawa tanpa menutup mata, saya bisa menangis dalam hadirat Tuhan dengan sadar penuh…


Maaf… sebelumnya ‘fenomena’ itu aneh menurut saya.


Tabrakan dengan segala logika sempit saya…


namun saat itu saya bisa menjadi seperti itu, perasaan meletup2, bahagia, saya malah bangga akan karya Roh Kudus.


Dan sekali lagi… saya tertawa puas karena bisa menertawakan logika sempit saya sendiri. Hahahaha…


Mulailah saya kembali tenggelam dalam hadirat Tuhan, tubuh melemas, nafas melambat, saya berdoa : ‘ya Tuhan inilah diriku sepenuhnya… aku mau lebih lagi bersama Engkau’


Perlahan diri saya seperti dituntun oleh orang-orang besar, lalu scene disebuah jalanan kota pun dimulai, jalanan yg penuh sesak orang-orang, saya bersama rombongan Tuhan Yesus, berjalan penuh sukacita, melintasi orang-orang yang tak terhitung jumlahnya.


Lalu Tuhan Yesus berkata : ‘kamu lihat, perhatikan dan rasakan apa yg Zakeus rasakan’


Saya mengangguk-angguk kegirangan.


Lalu Tuhan berseru memanggil Zakeus untuk turun dari pohon, Zakeus tergesa-gesa turun dari pohon itu.

Sampai Tuhan Yesus tersenyum lebar, sambil mengingatkan untuk turun dengan hati-hati.


Murid-murid segera membantu Zakeus untuk mendapatiNya.


Matanya nanar, tangan kakinya bergetar, nafasnya kencang, meledak seketika… Bapak bernama Zakeus itu! menangis… sambil meraih kaki Tuhan.


Lalu Yesus menyuruhnya bangkit dan Dia berkata : ‘malam ini Aku akan menginap di rumah Zakeus… Aku akan bermalam dan kita adakan pesta dirumahnya…’


Zakeus terlihat senang sekali, sekaligus heran, ‘benarkah Tuhanku?!’


Tapi terlihat jelas Zakeus sudah mempersiapkan semuanya.


Orang - orang bergunjing dan mencibir dia, juga tak sedikit yang kecewa kepada Yesus.


Namun Tuhan Yesus tetap ambil resiko itu.


Senyum Tuhan terlihat sangat senang, sesekali murid-murid mengingatkan saya untuk perhatikan apa yang diperkatakan dan dilakukan Zakeus.


Zakeus terlihat sangat berapi-api, seorang bapak yang terlihat tidak kaku, penampilan orang cerdas, orang yang gesit gerakannya, lincah sorot matanya, pandai berkalimat dan mempunyai harta dan bawahan yang banyak.


Disela-sela makan bersama Yesus, Zakeus pun berdiri, dengan suara yang lantang, lalu dia berkata akan memberikan semua hartanya, bahkan bilamana ada yang dirugikannya akan dia ganti empat kali lipat.


Bukanlah kalimat yang dikatakan dengan tidak cermat, bukanlah keputusan berdasarkan euforia.


Tapi itulah komitmen.


Saya tertegun,


Kenapa Zakeus bisa?


Apakah karena Tuhan Yesus punya ‘magic’ yg mempengaruhinya?


Atau apa…?


Zakeus yang merasa dirinya hampa, hidupnya kosong, seringkali aral dengan musim kehidupan yang menghampirinya, mau berubah namun sangatlah sulit.


Mau bertobat, tapi hanya retorika sesaat.


Dia sadar itu, dia punya ‘kerinduan’ itu, dan dia hanya tahu bahwa Yesus akan melintas.


Yesus yang penuh kuasa. Akan sedekat selemparan batu dengannya.


Kerinduan.


Kerinduan yang kuat itu yang membuat orang pendek menjadi panjang akal.


Pohon pun dipanjatnya. Asalkan bisa melihat Yesus.


Harapan pasti tumbuh kembali.


Suluk kerinduan berbuah masar! Yesus bahkan memanggil namanya, bahkan Yesus makan dirumahnya. Yesus perduli dengannya, dengan hidupnya.


Zakeus ingin Tuhan semata karena ingin hidupnya berubah layar, ke kompas yang baik, sempurna, menurut rencana Tuhan.


Zakeus inginkan Yesus bukan untuk harta.


Hartanya pun dia bagi-bagikan. Bangkrut pun dia siap. Yang penting Yesus. KuasaNya mengubah sikap hidupnya yang salah, menutup segala kosong itu, menambal segala dosa itu.


Lubang yang mustahil untuk kita tutup sendiri. Zach mengerti hal itu.


Pertemuan yang merubah hidupnya selamanya.


Seolah dia hanya diciptakan, lalu hidup berpuluh tahun, hanya untuk satu ‘scene’ kehidupan yang terpenting.


Scene pertemuan dengan Allah.


Pertemuan yang memenuhi segala kehidupannya.


Saya menangis tersedu, betapa dalamnya kali ini saya dibawa olehNya, hanya untuk saya mengerti bahwa ‘Kerinduan’ untuk ‘Pertemuan’ dengan Allah itu begitu pentingnya…


Bukanlah seongok berkat materi yang selalu saya gaungkan di doa-doa itu..!


Pertemuan yang memberikan Kuasa untuk menjadi Baru…


Menjadi purna… penuh… menjadi utuh…!


Karena pertemuan indah itu mengimpartasikan Kuasa Maha Tinggi, pikiran Ilahi, jiwa yang seperti air danau yang tenang, batin seperti ditetesi embun pagi yang sejuk, pikiran seperti langit yang cerah.


Hanya itu, bekal yang selalu harus dibawa.


Bahan bakar untuk kaki tetap melangkah dalam Iman, untuk perjalanan denganNya.


Oh Tuhan…


Aku mau seperti Zakeus, beriman seperti itu, mencariMu dan bukan harta.


Yang berharga hanyalah pertemuan dengan Roh Kudus.


Melangkah pasti…


Pagi ini saya menulis tulisan ini dengan tangis dan dengan kerinduan yang mendalam untuk terus merasakan urapanNya, diam di hadiratNya.


Di bawah sebuah pohon rindang sambil mengingat segala kejadian di ibadah kemarin…


Pohon itu adalah sebuah benda ‘mati’, saksi ‘bisu’ pertemuan indah antara Zakeus dengan Tuhannya, Yesus sang pembebas!


Pohon yang membuat saya berbicara dan hidup!


Amin…


NB 1 : 

Awal ibadah saya  mengalami sakit pada pinggang sebelah kanan yang menjalar sampai di belakang kaki kiri dan betis, berjalan dari parkiran terasa sakit, pada akhir ibadah berangsur pulih, bahkan ketika perjalanan pulang ke rumah, sudah sembuh secara sempurna, Lawatan Roh Kudus mampu menyembuhkan! Amin…

NB 2 : Tadi ketawa2 karena ingat Ps Cahya pernah salah sebut nama ketika Khotbah tentang Zakeus. Pastor malah memanggil Lazarus… wkwkwk…

Tapi tidak dikoreksi… malah Berseru : “Lazarus, kamu ngapain di atas pohon?, itukan pohonnya Zakeus..!” $&%#😂😭

Komentar