Langsung ke konten utama

Rhema Nostalgia : Rapsodi “Rindu S’lalu”



Ibadah 20 Agustus 2023

Great Commicion Church Bandung

Gara - gara info Gerbang Tol Gede bage KM 149 ruas Padaleunyi dibuka, -yang memang sampai saya pastikan sungguh, itu benar - benar dibuka! 🥹 

Yup resmi dibuka pada hari Sabtu 19 Agustus 2023, walau beroperasi hanya dari jam 7-17 saja. 😌


Hal itu yg membuat saya ke gereja datang terlambat, 20 menit, salah prediksi waktu tempuh dan jarak.


Gara - gara hal itu jadinya sulit untuk start dan susah untuk fokus.


Di pikiran berkecamuk banyak hal, mulai dari ac yang terasa lebih dingin, sampai saya merasa ‘terganggu’ sama saudaraku dan saudariku jemaat yg terlebih dahulu dapat manifestasi urapan Tuhan.


Rasanya apa ada yang salah ya, koq saya gak ‘dapet’?


Apa karena dosa?


Apa karena ‘kurang kerinduan’ ?


Apa karena doa nya gak sungguh2…?


Mungkin pertanyaan terakhir, yang paling bener deh. 🤔


Sama seperti istri saya, selama berminggu-minggu ibadah, jarang dipanggil Pastor dan selama ini dia cukup terintimidasi dan bertanya-tanya apa nya yang salah…


Apakah setiap orang harus ‘karismatik’ dan harus selalu kedapatan ‘heboh’ diurapi dengan segala manifestasinya?


Apakah karena kurang kerinduan sehingga Roh Kudus enggan untuk mengurapi kita?


Apakah cara mengatasi kurang kerinduan tsb adalah dengan berfokus di rasa, dicari-cari plasebo rasa sedih, rasa bahagia, rasa terharu sehingga mudah untuk merasa hadirat Tuhan?


Apakah dengan rebah dan tanda lain itu menunjukan level kerohanian seseorang?


Bagaimana jika tidak merasa apa-apa?


Bagaimana bila setiap minggu seolah berlalu sia-sia?


Masihkah diri ini dipersalahkan karena kurang kerinduan?? 😔😝


Jadinya malahan kita memberhalakan ‘rebah’.


Kita yang jadinya memaksa untuk dijamahNya, memperalat Roh Kudus dan merasa rohani sudah pol…


Di tengah segala pemikiran itu, saya berserah… dan berfokus pada rasa syukur atas kebaikan dan anugerahnya untuk moment ibadah ini.


Bisa ibadah aja udah syukur!


Memang dari semalaman saya merasa badan kurang fit, begitupun istri, dia dari Jumat malam udah gejala pilek dan masuk angin.


Jadinya ibadah ini syukur - syukur deh udah bisa dateng juga. 😘


Syukur - syukur ada di ruangannya Tuhan. 🥰


Yang penting Dia hadir saja sudah segalanya. 

Istimewa! 

😍


Perkara rebah, manifestasi kuasa, dll itu semuanya hanya kedaulatanNya.


Sepenuhnya itu adalah haknya Tuhan.


Kewajiban kita adalah memenfaatkan moment ini dengan rasa rindu, rasa menginginkanNya.


Tapi gak usah lebay juga… karena Dia maha tahu dan mengerti semua bahasa. Dia mengerti kita itu, lebih dari pengertian kita sendiri.


Waktu Tuhan adalah yang paling terbaik dari sebaik-baiknya pemikiran kita.


Setidaknya itulah pemikiran dari Tuhan yang bertiup kuat menghalau segala pusaran badai pikiran - pikiran yang kacau tadi.


*


Saya duduk, tenang, saya berdoa dengan ucapan syukur, atas kehadirannya, atas segala perbuatan Tuhan.


Rasanya apapun yang terjadi, ibadah ini akan selalu istimewa, karena Dia hadir, pasti ada perubahan bagi setiap orang yang datang.


Saya menikmati sekali setiap detik yang berlalu, enjoy saja!

Nuansa yang sangat mewah ini hanya Dia saja yang bisa hadirkan…

Woow betapa megahnya…


Saya fokus untuk memuji, menyembahNya…


Lalu badan saya lemas terkulai, saya mulai tidak bisa merasakan kepala sendiri, pundak, tangan dan jemari mulai tidak bisa digerakan, pikiran saya dibawa fokus pada suara yang menuntun saya…


Suara kemerosok… siaran radio dari tempat yang nun jauh di sana.


Suara - suara bahasa asing yang tidak pernah terdengar, samar, naik turun sperti suara radio tua yang sukar menangkap frekuensi lantaran antena nya bergeser - geser. Hahaha


Namun saya sangat menikmatinya.


Perlahan saya melihat ruangan 30 tahun yang lalu, ruangan kamar saya yang kecil, semua barang, stiker, kertas yang menempel ke tembok dan hal detail lainnya bisa saya lihat.


Saya melihat Temy kecil sedang berada di meja belajar, memutar-mutar tuning radio tua, yang baterenya sudah melemah, yang ada tali hitam untuk digantungkan ke leher…


Ah itu. Saya ingat sekali. Radio usang itu.


Kemudian saya melihat Temy kecil berdoa, dia takjub dengan suara siaran tadi, dia menikmati indahnya musik, bahasa asing, sambil beriringan dengan suara gemuruh kemerosok radio bututnya.


Dia berdoa agar Tuhan menemaninya pagi itu… Dia ingin memuji Tuhan…


Lalu saya menitikan air mata, Temy kecil yang belum tahu Tuhan, tapi Temy kecil punya yang namanya ‘rindu’…


Lalu…


Ada terasa dua tangan memegangi saya, memapah saya untuk bangun. Sulit rasanya, kaki ini tidak terasa menapak, bahkan tangan ini terasa dingin dan kaku.


Ternyata Petugas Catcher yang menghampiri saya karena sudah dipanggil oleh HambaNya, hooo maafkan bro sist…


Saya perlahan berjalan digiring ke pinggir ruangan. Di sana Pastor sudah berdiri dan berbicara, tetapi mata saya sulit dibuka, telinga saya pun sulit untuk  mendengar apa yang Pastor sampaikan (duh maafkan Ps… 🫣)


sampai…. akhirnya… wooooosh…!


Seperti angin berhembus, saya dibawa melayang…

Badan ini terasa berat ke belakang dan langsung meniti ke bawah… sekali lagi terima kasih buat para Catcher atas pelayanannya, betapa tidak terbayang bila saya lepas kendali seperti itu tanpa ada yang menahan tubuh ini.


Lalu saya melihat Temy kecil berada di loteng darurat, tempat mengungsi bila terjadi banjir.


Ruangan dimana saya dan nenek pakai bila banjir terjadi, sering sekali kami kebanjiaran waktu itu.


Saya melihat Temy kecil termenung, sedih, kesepian, sendiri.


Membaca koran bekas dan mengisi TTS rupanya masih belum dapat membuatnya senang.


Lalu Temy kecil berdoa, untuk masa depannya kelak, berdoa agar punya masa depan yang baik, punya pekerjaan yang hebat, ada penghasilan yang cukup…

cukup untuk membeli segala barang yang diinginkan… 🤭


Hmmnh dasar anak kecil…!


Temy kecil tahu bahwa Amak (nenek) tidak selamanya ada untuk dia, dia berdoa agar kelak perpisahan itu tidaklah menyedihkan, karena dia sudah bisa membuat Amak senang, sudah bisa membelikan segala sesuatu yang Amak mau, bisa ajak Amak jalan - jalan, bisa makan di restoran, bisa punya rumah tangga dan anak!


Temy kecil terus berdoa sampai banyak sekali nyamuk mengerubunginya. Namun Temy kecil tidak mau membuka mata. Dia terus berdoa memohon agar Tuhan ringankan beban kesedihannya, menghilangkan ketakutannya dan lepaskan dari kesepiannya.


Dan Tuhan hadir…


Saya merasakan Tuhan Yesus dan para malaikat hadir di gudang kecil itu.


Dindingnya, bau apeknya, jendela kacanya, tangganya, segala barang yang ada di sana bisa saya lihat jelas.


Oh God, perfectly that is the place where i belong…


Saya menangis tanpa ada suara.


(Ternyata…!)

Tuhan Kau ada di sana pada waktu itu…

Tuhan Engkau setia… 😇

 

Kemudian terasa angin yang dingin.

Suatu sore yang mulai gelap, dingin berkabut.

Saya melihat Temy kecil duduk di atas tumpukan karung pasir. Di pinggir jalan, jalur sebelah kiri. Di tengah median jalan tertanam rapi cemara - cemara yang tinggi menjulur, berderet semerbak memberikan aroma khas sore itu. 


Lalu… tiba - tiba…


Eeeeeeeeennng…. Jebreeet…!!!


Sebuah mobil sedan melaju dengan kencang dan oleng langsung menabrak sebuah kios, tepat di depan Temy kecil, nyaris saja!


Temy kecil pun selamat. Menggigil kaget ketakutan.


kejadian ini faktanya…

Adalah kejadian yang nyata pernah terjadi dalam hidup saya, pada saat rentang umur 5 - 6 tahun, saya pun sudah lupa kejadiannya.


Saya diberikan kesempatan untuk mengingat kejadian ini lagi.


Betapa Dia murah hati, Dia baik, Dia meluputkan Temy kecil dari marabahaya.


Dan…


Saya sadar satu hal… Tuhan punya maksud dan rencana indah dibalik kejadian ini.


Persis tempatnya saya ingat sekarang : 

itu di Jalan Pasteur Bandung, tepat di seberang Biofarma. Saat itu saya dibawa Amak mengunjungi Kukuh (tante) Kedua.


Tangis pecah.


Tanpa bisa berkata-kata, hanya tangis. Betapa Tuhan baik.


Tidak sampai di sini, Tuhan masih memberikan penglihatan masa kecil saya.


Saya mulai berjalan dari ruangan ke ruangan di rumah saya waktu kecil.


Saya melihat Temy kecil begitu semangat. Sore itu, dia ke gereja, untuk belajar main keyboard.


Lalu saya melihat tangan kecil saya mulai memainkan sebuah intro lagu…


Terbata-bata. Sesekali diulang.


Yang ditekan hanya Root Chord dan sesekali hanya bass single not yang ditekan tangan kiri, tangan kanan mengalun melodi intro lagu : “Rindu S’lalu”. (Frankie Sihombing)


Jauh sekali dari permainan indahnya piano Joseph S. Djafar…


namun saya menangis sesenggukan mendengar lagu ini…


tak tahan rasanya…


ada ledakan di dalam dada ini.


(… Verse)

Rindu s’lalu bersamamu…

Tinggal di dalam kediamanMu…

Oh… Tuhan…

S’bab kusukai hadiratMu…”


Di sore yang sunyi, hanya saya dan Ko Roni, yang bermurah hati untuk mengajari saya piano, sore itu, di ruangan gereja GPDI yang minim cahaya, menggelegar sebuah lagu penyembahan yang mengalun tenang…


Suara piano indah keluar mambahana mendayu - dayu dari Roland E-56 Intelligent Syntesizer, persis!!!  ada ciri  tombol - tombol kuning, hitam dan putih yang sangat mirip dengan kaplet Ampicillin, lengkap dengan Volume model slider dan tombol power yang adanya di belakang.


Keyboard pertama yang jemari saya sentuh, keyboard yang saya sendiri sudah tidak ingat-ingat lagi, tapi Tuhan putar kenangan ini lagi!


Saya lalu ingat kejadian sore ini, Ko Roni datang tepat waktu, pakai kaus hitam, celana panjang hitam, dia ajari saya lagu ini… tapi key Do=E lalu dengan tombol transpose Roland E-56 yang ada di paling kanan bawah tapi tombolnya rusak lalu dia berusaha setting Transpose +4 sehingga saya bisa mainkan di C Mayor.


Saya ingat…

Keyboard berwarna hitam itu, ada 1 tuts nada E di oktaf terakhir yang rusak velocity nya…


Saya ingat… saya memakai kaus berkerah belang2 kecil, warna merah, hitam, kuning, busana terbaik yang saya punya waktu itu.


Saya ingat…

Liriknya, nadanya, chordnya… sebuah lagu yang begitu indahnya, sebuah lagu yang teramat istimewa!


Saya ingat…

Inilah Lagu pertama yang saya bisa, lagu penyembahan yang merubah hidup saya selamanya.


“Rindu S’lalu” dan pengalaman pertama saya dan piano ini, semuanya melayang - layang melintas di pikiran saya.


(…Verse 2)

 “Tak ingin ku terpisahkan…

Dekat denganMu…

Itu yang kurindukan…

S’bab kudapati…

Kedamaian…”


Reff,

Kunikmati keindahan dan keagunganMu…

Oh Tuhan…”


“Kunikmati kemulyaanMu…

MenyembahMu dengan segenap hatiku”


Lagunya : baik lirik maupun melodinya begitu memenuhi hati saya. Rasanya seperti saat pertama kali saya memainkannya…


ilustrasi gambar : sumber Bing


*


Lagu melantun berulang - ulang, saya pun melihat ruangan ibadah gereja itu yang kemudian dipenuhi orang - orang, bersegaram warna - warni, kebanyakan wajah yang tidak asing bagi saya, wajah jemaat medio tahun 90an, lalu kita menyembah Tuhan bersama - sama, “Rindu S’lalu” mengalun syahdu, jemaat menangis, saya pun demikian.


Saya ada di ruangan ibadah itu, berdiri di sebelah alat OHP (proyektor), saya operasikan alat itu dengan air mata yang berderai, sungguh indah kediaman Allah… damai…


Somewhere i belong!


Tempat dimana saya mendapat Pribadi Tuhan, Rajaku.


*


Pengalaman resting ini memberikan rhema yang luar biasa, pengingat Temy dewasa yang jadi pelupa karena putaran kencang Roda Kehidupan.


Sekarang saya ingat…

Saya melihat Tuhan begitu dekat dengan Temy kecil.


Yesus yang setia, Yesus yang selalu hadir.

Roh Kudus yang terus menerus “menarik” Temy kecil untuk diam di pelataran Tuhan.


Temy kecil yang sering kesepian, yang sering berdoa kepada Tuhannya, agar suatu saat kelak… Temy dewasa menjadi pencari Allah, penyembah Allah, Temy yang akan selalu rindu untuk dekat dengan Tuhannya…



Tak dinyana suatu ketika di sebuah ibadah “reguler” Temy dewasa dibawa melintas ruang dan waktu mengenang masa yang paling indah, masa cinta mulai bertunas, masa dimana cinta dibalas Kasih. Kasih tak bersyarat, kasih yang penuh!


🥹🥹🥹🥹🥹


“Rindu S’lalu” lagu kenangan, lagu cinta, yang mengobati rindu itu sendiri.


Karena…


30 tahun kemudian… 


Aku sekarang ini, aku dapati Dia, kurasakan CintaNya…


Cinta yang selalu hadir! dan yg tidak pernah meninggalkan!


Cinta yang sejati dan sepenuhnya!


Cinta…

yang saat ini aku dapatkan…

saat aku rebah di dalam Dia.

Aku dapati Yesusku.

Sepuasnya kudapatkan CintaNya.



Komentar