Langsung ke konten utama

Terapi Sukses : Dopamine Detox

Hai sobat sukses semua...

Tiba2 aja hari Sabtu ini saya pengen nulis sesuatu.


Kali ini tema yg mau dibahas adalah soal Dopamin Detox, istilah yg mulai hive di kalangan muda aktif produktif kayak kita.


Bukan gak ada sebab saya nulis begini, tp yg saya rasain di bulan Sept ini koq seret banget buat achive goal yg kudu saya raih, byk buku yg terbengkalai, film yg udah didonlot tp blm ketonton, juga serangkaian kegiatan aktif yg batal n selow bgt saya jalanin.


Mana kedai lg sepi nih, makin panik juga mental kerdil si bisnis manager amatiran kayak saya.


Padahal jiwa miskin meronta2... hahay...


So yg jelas, di bulan ini saya putuskan buat hiatus bentar dan merumuskan strategi untuk segala achivement di tahun ini, mengingat 2021 kan tinggal < 100 hari lagi.


Ciye... mulia sekali? Yup... itu sih rencananya.


Kenyataannya malah keseringan di rumah bikin produktifitas juga menurun, malah keganggu maen2 sama anak, maen game bareng dia, nonton netflix yg berjilid2 sama istri tercinta, sampai juga byk nerimain tamu keluarga n temen2, mamah ngajak hangout lah, tante yg tiba2 dateng, dll.


Ok deh balik ke topik.


Problem utama yg saya sorot selain distraksi varian di atas ternyata ada ‘varian baru’ dalam dinamika hidup saya, yaitu ternyata bulan July, Agustus n Sept ini angka Persentase “Screen Time” saya meningkat drastis (gadget freak!).




Setelah ditelaah... buset ternyata Waktu saya pegang gadget didominasi oleh 2 hal...


Di ranking 2 adalah Market Place.

Emang sih buat beli keperluan kedai pake market place, jd ampir tiap hari pasti cari barang. Tp juga saya byk bgt lirik2 barang lain, barang2 yg gak perlu2 amat juga malah ttp saya kepoin.


Kl buka histori searchingnya... wadidaw!

byk bgt... mulai dari ipod bekas, sepatu, biola, mainan anak, sofa, genteng, obat tetes hidung, spion motor sampe lantai n pulpen xiaomi juga saya kepoin. Parah gak tuh...


Ranking 1 nya adalah : Youtube!

bukan hanya Ibadah Online atau cuma dengerin Lagu Puji2an doang, itu mah paling seminggu sekali doang.


Tapi juga saya ini mulai kepo buat liatin politik lah, berita, info travel dan segala video yg muncul di feed halaman depan, gak ada tujuan tpi ttp saya klik n saya tonton. Hadeh!


Nah saya sadar ini mulai jadi ‘ancaman varian baru’ yg bikin hidup melemah.


serta merosot.


Sebelum jatuh lebih jauh, saya cb riset dan pelajari hal ini, supaya ttp produktif seperti bulan2 sebelumnya atau seperti dahulu di kala daku muda belia... haha.


Lebih baik seperti dahulu : Kreatif... walau kere tapi aktif... hahaha...


(Bersambung...)




Percaya gak? KLIK atau Tap Screen kini adalah jalan ninja kita menuju Happy!


Akses untuk mendapatkan kesenangan instan kini sangatlah mudah, tp juga membunuh waktu.


‘Waktu’ itu kan sesuatu yg gak akan pernah bakal bisa balik lagi, modal yg paling berharga, modal paling mahal dan sangat terbatas!


Teknologi internet yang digunakan secara

salah tak hanya dapat menghabiskan waktu

dengan percuma, melainkan juga akan

merusak otak dan menghancurkan hidup

kita.


Koq bisa?


Gegaranya kita jadi seorang pemalas luar biasa.

cepat bosan luar biasa.

tidak fokus.

tak pandai bersyukur.

sibuk padahal tidak penting.

dan tak lagi bahagia!


Kita jadi pecandu.

Kita mati padahal masih hidup.

Kita hidup tapi kayak orang mati.


kapan terakhir kita makan tanpa nya?

kapan terakhir kita beranjak tidur tanpa nya?

kapan terakhir kita hangout tanpa nya?

kapan terakhir kita bersenang-senang tanpa nya?

kapan terakhir kita berlibur tanpa nya?


kapan terakhir kita kasih waktu tenang buat pikiran kita?

kapan terakhir kita kasih waktu buat tubuh kita?


Buat sekedar bersihin tubuh kita yg letih setelah sepanjang waktu kita pakai!


Buat sekedar makan tanpa terburu2, menikmati hidangan makanan dengan sepenuh jiwa raga. 


Buat sekedar kasih waktu tubuh kita jd relax dan jiwa kita jd segar.


Buat sekedar bercengkrama dengan hayat kita...


Kita berterima kasih karena sudah mendampingi jalan hidup kita dan sebaliknya juga meminta maaf karena kita lalai memelihara hayati tubuh kita yg maha sempurna ini.


Begitu juga lah seharusnya kita bersikap terhadap jiwa kita, mental kita, sosial kita... 


Supaya tetap waras, tetap bisa bersimpati, berempati, memancarkan kasih dan memberi damai.


Nah setelah perenungan ini, barulah saya menemukan kunci yg saya cari.


(Sesuai judul tulisan ini : DOPAMINE DETOX)


Inget gak dulu waktu kita mendapatkan A atau nilai 100 (nilai sempurna) setelah belajar dengan tekun selama berhari-hari, dan kita merasa BAHAGIA?


Waktu kita memperoleh promosi jabatan karena telah bekerja dengan sebaik-baiknya   selama bertahun-tahun lamanya yang akhirnya kita pun BAHAGIA.


Saat kita nembak gebetan setelah PDKT yang lama dan dapat jawaban Yes, kita jadi senang bukan kepalang.

Bahagia banget deh pokoknya...


Nah tapi masalahnya berkat INTERNET kita juga dapat merasakan pengalaman serupa hanya dari sebuah KLIK / TAP !!! atau sentuhan jari saja!


Wow!


“Itu” yg terjadi saat kita mendapatkan like di sosial media, bermain game, pesan belanja online atau bahkan menonton pornografi.


Kebahagiaan kini berada di ujung jari kita!

Tak perlu waktu yang lama.

Tak perlu usaha yang besar untuk mendapatkannya. Wow!


Jika kita bisa mendapatkan nilai bagus

hanya dengan sebuah klik, apakah masih kah kita mau menghabiskan waktu berhari-hari untuk belajar?


Jika kita bisa mendapatkan reward level up, like dan pengakuan sosial hanya dari ujung jari, apakah kita mau menghabiskan waktu

bertahun-tahun untuk bekerja dengan tekun?


Dopamine sendiri adalah hormon yang

bertanggung jawab terhadap sensasi

senang dalam otak kita


Bersama Serotonin, Endorfin dan Oksitosin Domamin dijuluki sebagai Happy hormons atau hormon Kebahagiaan.


Dopamine juga berkaitan erat dengan motivasi dan hasrat untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan.


Saat kita merasa bahagia, otak kita dibanjiri oleh dopamine, tak peduli itu setelah kita melakukan hal yang sulit atau hal yang mudah!


Berolahraga menghasilkan dopamine, tapi bermain game juga menghasilkan dopamine.


Bercanda dengan teman menghasilkan dopamine, tapi nonton video prank lucu dan recehan juga menghasilkan dopamine.


Pencapaian karir bisa menghasilkan dopamine, tapi nonton video orang pamer kemewahan sembari membayangkan kita di sana juga menghasilkan dopamine.


Sekali lagi... jika ada pilihan yang lebih mudah, mengapa kita harus melakukan yang lebih susah?


Semua itu pada akhirnya membuat

kita tak lagi menghormati proses.


Semua itu merusak sistem reward dalam otak kita, sebab reward tak lagi datang dari serangkaian usaha dan rentetan waktu, melainkan dapat diperoleh setiap kali dibutuhkan, hanya melalui ujung jari.


Padahal hidup tak semudah naik level di mobile Legends, tak seindah newsfeed orang liburan di Instagram, juga tak seromantis drama Korea, tidak juga selucu prank di YouTube.


Kita mungkin memang sudah jadi pecandu yang selalu sakau dengan kebahagiaan dan pencapaian yang semu, maka tak heran apabila segala yang instan adalah new normal, tak sabaran, tak fokus, selalu merasa jenuh, tak pernah merasa puas atau terlalu gampang puas, tidak pandai bersyukur, malas untuk hal yang lebih penting, tapi kelewat rajin untuk hal yang tak berguna.


Kita juga jadi FOMO atau takut ketinggalan tren, tetapi malah meninggalkan mimpi kita sendiri!





Internet adalah alat.

Pisau yang bergantung pada penggunanya.

Yang dapat digunakan untuk memotong atau dipakai untuk membunuh.


Tentu saja tak ada yang salah dengannya, sampai ia digunakan secara berlebihan.


Memakainya secara ekstrim sampai merasa itu semua baik-baik saja.


Hidup-hidup gue.

Waktu-waktu gue.

Tidak melanggar hukum.

Tidak masuk penjara, tapi ternyata mengubah seluruh hal dalam hidupmu dan kita tidak sadar sejak kapan ia telah merusak otak kita.


Membuat kita tak lagi bahagia, tak lagi mengejar apa yang sebetulnya kita impikan,  atau mungkin kita tak lagi punya impian lagi!


Jadilah manusia yang hidup - sehidup-hidupnya.


Setiap kali kita lebih mementingkan kesenangan instan daripada menyelesaikan masalah kita, maka kita perlu berubah.


Caranya adalah dengan menyingkirkan gangguan dan memperbaiki fokus, sehingga hal yang penting, yang terlihat bosan untuk dikerjakan itu tidak lagi terlihat sebosan itu.


Goal yang ingin kita capai ternyata tidak sejauh itu koq. Kita pun dapat mengembalikan hidup kita.


Maka kuy cobain dopamine detox.


Sebuah pertanyaan : Mengapa ada orang yang begitu fokus dengan hal-hal penting

dalam hidupnya, tidak malas bekerja, selalu mengembangkan bisnisnya, bisa mempererat hubungan sosialnya, sementara

yang lain begitu malas melakukannya tapi malah menghabiskan waktu begitu percuma

dalam candu internet?


Jawabannya ada pada kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari untuk membangun kebiasaan yang baik.


Kita dapat melakukan dopamine detox yaitu

dengan memperbaiki sensor yang berada

dalam otak kita.


Saat motivasi hilang dan

semangat luntur kita tak lagi boleh

menghibur diri kita dengan eskapisme

berupa dopamine hit seperti yang

biasanya kita lakukan.


Kita tidak lagi memberikan reward disetiap saat.


Alih-alih melakukannya, biarkan diri kita cuma menjadi bosan.


Kita mungkin akan merasa lesu darah dan bosan setengah mati, tapi itulah poinnya, dengan membiarkan diri kita bosan, maka kita akan membiarkan otak kita

mereset dirinya.


Ketika kita menjadi sangat bosan, sehingga hal-hal yang sebelumnya kita anggap begitu membosankan, hal-hal yang justru lebih penting, prioritas-prioritas itu, masalah yang

sebetulnya perlu kita selesaikan, perlahan berubah jadi menyenangkan!


Beberapa hal yang perlu kita kurangi

atau bahkan kita hilangkan adalah ber-sosial media, game, musik, netflix, YouTube

gosip dan berita online, etc.


Kita tentu tetap dapat menggunakan internet dan software yang mendukung segala pekerjaan kita tapi

perhatikan sekali lagi jangan pernah

menggunakannya untuk memberikan dopamin hit! seperti yang selama ini kita

lakukan.


Berikan reward hanya ketika pekerjaan telah selesai, terutama setelah petang hari.


Semakin besar pencapaian yang kita dapat, bolehlah semakin besar reward yang boleh kita berikan.


Ini seperti berbuka setelah puasa seharian.


Selanjutnya pertahankan detoks program ini

selama 100 hari berturut-turut, hingga

menjadi habit yang baru.


Dengan membiarkan otak kita beristirahat, 

otak kita akan mulai mendefinisikan kembali kebahagiaan dan merasa lebih bahagia, bahkan untuk hal-hal kecil yang sering terlewatkan di depan mata.


Hidup tenang, pikiran segar, bebas gangguan, lebih fokus, lebih produktif.


Hinggga akhirnya kita pun jadi punya

lebih banyak ruang dan waktu untuk

menyusun ulang goal yang ingin kita raih

sekaligus secara perlahan mulai fokus

untuk mencapainya.


Bapak Camat dari Cibuntu

Istrinya berbalik selingkuh

Selamat hari Sabtu

Jadilah versi terbaik dirimu!





Hahay...

Komentar